Mintalah Kepada Allah, Pasti Terkabul


Apa yang kau minta tak terhalang selama engkau meminta kepada Tuhanmu,
Namun apa yang kauminta tak akan datang
selama engkau mengandalkan dirimu sendiri.

Permintaan yang dimaksud pada hikmah di atas adalah bersifat umum, meliputi semua permintaan, baik itu yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Apa yang kau minta dan inginkan tidak akan terhalang selama dalam mencarinya kau tetap memperhatikan Tuhanmu, menghadirkan-Nya dalam hatimu, dan bersandar kepada-Nya agar memudahkan permintaan dan urusanmu. Namun permintaan itu akan sulit kau raih bila kau lalai dari-Nya dan bersandar kepada orang –orang sekitarmu atau pada kekuatan dirimu sendiri.

Barangsiapa menyerahkan segala kebutuhannya kepada Allah, berlindung dan bertawakkal kepada-Nya, Allah akan mencukupi kebutuhannya, mendekatkan yang jauh darinya, dan memudahkan segala yang sulit baginya. Barangsiapa yang mengandalkan ilmu dan akalnya serta bersandar pada kekuatan dan kemampuannya, Allah akan mempersulitnya dan membuatnya gagal. Apa yang diinginkan dan dibutuhkannya itu tidak akan mudah didapatkan dan sulit diwujudkan.

Ibnu Atha’illah al-Iskandari dalam kitab AL-Hikam


Ditundanya Pemberian Allah Jangan Melemahkan Semangatmu Untuk Meminta

Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kauinginkan.

Allah berfirman ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu” (QS:Al-Mu’min;60)

Doa yang pengabulannya ditunda, mungkin lebih baik bagi seseorang  daripada doa yang pengabulannya disegerakan. Karena bisa jadi,penundaan doa itu ditujukan agar ia semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah dan semakin merasa takut kepada Allah. Dalam situasi ini, biasanya syetan akan datang dan membisikkan “Jika benar tekadmu kuat, Tuhanmu pasti sudah mengabulkan doamu, menghilangkan sifat-sifat kemanusiaanmu yang buruk, dan mewujudkan segala keinginanmu.” Sehingga engkaupun tak sadar bahwa ditundanya pengabulan doa itu adalah lebih baik bagimu.

Bisa jadi juga ditundanya pengabulan doa tersebut disebabkan sifat-sifat burukmu yang terlalu banyak dan tidak bisa dihilangkan kecuali dalam waktu yang lama, sehingga mujahaddah dan riyadhah yang dilakukan masih belum berpengaruh pada pengabulan doa-doa.

Orang-orang arif mengumpakan alam ini dengan tanah yang ditumbuhi tumbuhan berduri, kadang durinya besar-besar dan banyak sehingga sulit dilalui dan bisa melukai. Kadang durinya kecil-kecil dan sedikit, dan mudah dihilangkan. Demikian juga sifat-sifat jiwa, ada yang bersifat buruk dan berjumlah banyak, sehingga untuk menghilangkannya butuh waktu lama dan perjuangan panjang. Terkadang ada juga sifat-sifat itu tidak terlalu buruk dan hanya sedikit sehingga tidak perlu waktu yang lama dan perjuangan yang panjang untuk membersihkannya. Ketika tujuan utama seseorang adalah menghilangkan sifat-sifat buruk jiwa, meski itu memakan waktu yang lama dan berakhir di ujung usia, semua penderitaan dan perjuangannya selama masa itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan tujuan utamanya.

Sumber: Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah Al-Iskandari

Doa Terebebas Dari Hutang


 Diantara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah doa kebebasan dar sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ المَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ

(Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghromi)

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang.”

Ada seorang sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan (kepada Allah) dari lilitan hutang (dengan membaca doa di atas)?” Beliau menjawab:

«إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ»

Artinya: “Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang, jika dia berbicara, maka (biasanya) dia berdusta. Dan jika dia berjanji, maka (biasanya) dia ingkari.”. [HR. Al-Bukhari no. 798]

Nabi shallallahu alaihi wasallam saja yang sudah jelas sebagai hamba Allah yang paling bertakwa dan takut kepada-Nya, paling jujur dan amanah, dan sudah pasti dosa-dosa beliau diampuni oleh Allah ta’ala beliau masih sering memohon perlindungan kepada Allah dari bahaya lilitan hutang dengan banyak membaca doa tersebut di atas, maka bagaimanakah dengan kita yang sudah barang tentu banyak memiliki kelemahan, kekurangan dan kesalahan?

Maka sudah sepantasnya kita pun memperbanyak permohonan perlindungan kepada Allah dari bahaya lilitan hutang dan perkara-perkara buruk lainnya.


Doa Mustajab saat Ayam Jantan Berkokok Dan Memejamkan Mata Orang Meninggal


Berikut kami kutipkan dari sebuah buku Al Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari rahimahullah serta kitab hadits Shahih Muslim tentang 2 waktu berdoa mustajabah yang banyak manusia tidak mengetahuinya

1. Saat mendengar ayam jantan berkokok.
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan”. [HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya no. 3303 dan Al-Adabul-Mufrad no. 1236]

2. Saat memejamkan mata orang yang meninggal.
Dari Ummu Salamah ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Abu Salamah (yang telah meninggal) dimana matanya masih dalam keadaan terbuka. Lalu beliau memejamkannya, dan bersabda : “Sesungguhnya ruh itu jika dicabut akan diikuti oleh mata”. Kemudian sejumlah orang dari anggota keluarganya ribut. Beliau pun lantas bersabda : “Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan”.[HR. Muslim no. 1920, Ahmad 6/297]

Semoga tatkala kita menjumpai kedua waktu tersebut, hati dan lisan kita senantiasa memanjatkan doa demi kebaikan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah ta’ala tidak membuat kita lalai dari beberapa waktu – waktu lain yang menjadikan doa diijabah oleh Rabbuna ‘azza wa jalla.

Sumber: https://fitrahfitri.wordpress.com


Pengaruh Pengaruh Jelek dari Doa-doa Bid’ah

Doa-doa syar’i dan dzikir-dzikir yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mempunyai ciri khusus yaitu sempurna isi dan maknanya. Lafazh-lafazh dan ungkapannya ringkas, makna serta kandungannya agung dan luas, mencakup segala kebaikan, meliputi tujuan-tujuan yang tinggi, cita-cita yang agung, dan kebaikan-kebaikan yang banyak. Oleh karena itu sebaiknya bagi setiap muslim bahkan wajib baginya bersungguh-sungguh sesuai kemampuannya untuk mempelajari, menghafal, dan beribadah dengannya, meninggalkan wirid-wirid dan doa-doa buatan manusia yang disusun oleh para syaikh sesat dan da’i batil serta yang menhalangi kebanyakan muslimin yang awam dan tidak mengerti dari doa-doa serta dzikir-dzikir yang disyariatkan.

Bagi yang memerhatikan keadaan sebagian kaum muslimin utamanya orang-orang yang tergabung dalam tarekat sufiyah akan menemukan bahwa mereka justru sibuk dengan dzikir-dzikir buatan manusia dan doa-doa bid’ah. Mereka membacanya siang dan malam, pagi dan sore, meninggalkan kitabullah, berpaling dari doa-doa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Kemudian masing-masing orang dari kelompok itu mempunyai wirid sendiri yang mereka baca dengan cara khusus dan gaya tertentu. Jadi tiap kelompok dari tarekat sufiyah mempunyai doa dan wirid khusus dan

“Masing-masing golongan bangga akan ajaran yang ada pada mereka.” (Al-Mu’minun: 53)
Masing-masingnya meyakini bahwa wiridnya lebih afdhal daripada wirid tarekat lainnya!
Dan tidak diragukan lagi bahwa doa-doa bid’ah itu mempunyai dampak dan pengaruh yang disesalkan serta jelek bagi kaum muslimin menyangkut akidah dan amal ibadahnya di mana pengaruh jeleknya banyak dan tidak terhitung. Syaikh Jailan bin Khadlar al-‘Arusi telah meringkasnya dalam kitabnya yang bagus Du’a wa Manzilatuhu minal Aqidah Al-Islamiyyah (Doa dan Kedudukannya dalam Aqidah Islamiyah) yang akan saya sebutkan dalam beberapa poin berikut ini:

Pertama: 
Doa-doa bid’ah tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan dari tujuan ibadah-ibadah seperti menyucikan dan membersihkan jiwa dari dosa-dosa, mendekatkan diri kepada pencipta, ketergantungan kepada Rabb dengan harap, cinta, dan takut. Jadi doa tersebut diibaratkan tidak dapat memuaskan orang yang haus dan mengenyangkan orang yang lapar.

Sementara doa-doa yang syar’i merupakan doa yang manjur yang mengobati penyakit-penyakit jasmani dan jiwa serta hawa nafsu setan. Barangsiapa menggantikan doa syar’i dengan doa selainnya sungguh ia menggantikan sesuatu yang baik dengan sesuatu yang jelek.

Kedua
Doa-doa bid’ah menghilangkan pahala dan ganjaran yang besar yang dapat dihasilkan dari percikan karunia Rabb bagi orang yang berpegang, menjaga, dan mempraktikkan doa-doa syar’i. Sebaliknya doa-doa bid’ah dapat menghilangkan pahala serta mengundang murka dan marah Allah.

Ketiga
Doa-doa bid’ah tidak dikabulkan padahal tujuan utama dan pondasi bagi orang yang berdoa pada umumnya adalah minta dikabulkan permintaannya, meraih keinginannya, dan terhindar dari sesuatu yang dibencinya. Doa-doa yang bid’ah tidak menghasilkan ini semua. Dalam hadits disebutkan:

“Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang bukan dari perintahku maka ia tertolak.” (Shahih Muslim, 3/1343)

Keempat
Pada umumnya doa-doa bid’ah mengandung perkara yang dilarang secara syar’i. Terkadang yang dilarang itu bagian dari perantara syirik, karena kebid’ahan itu pada umumnya menyeret pada kesyirikan dan kesesatan. Termasuk doa bid’ah yang menyeret kepada kesyirikan adalah tawassul bid’ah. Dialah yang membuka pintu untuk berdoa, meminta tolong dan bantuan kepada selain Allah. Terkadang yang dilarang merupakan perkara yang melampaui batas dalam doa seperti melampaui batas dalam hal adab berbicara kepada Allah dan terkadang yang dilarang itu mengandung kebid’ahan lain berupa pembatasan doa pada waktu tertentu dan sifat khusus, mengeraskan suara dengan nada yang sama, (dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, sajak-sajak yang tersusun serta susunan bahasa yang rancu yang tidak enak didengar serta dianggap jelek oleh perasaan yang halus.

Kelima: 
Doa-doa bid’ah yang telah dibiasakan dan dipegang teguh akan menjauhkan orang yang komitmen dengannya kembali bertaubat kepada doa-doa yang disyariatkan kecuali orang yang diberi taufik dan hidayah kepada kebaikan. Karena manakala hati sibuk dengan kebid’ahan maka ia berpaling dari sunnah-sunnah, di mana orang yang komitmen dengan doa bid’ah meyakininya sebagai doa yang disyariatkan serta membelanya, tidak mau mendengar hujjah maupun dalil.

Keenam: 
Menggunakan doa-doa bid’ah dan meninggalkan doa-doa yang disyariatkan termasuk menggantikan perkara yang baik dengan perkara yang kotor, yang bermanfaat dengan yang membahayakan, yang baik dengan kejelekan, yang demikian ini tidak diragukan lagi merupakan kerugian yang nyata.

Ketujuh
Doa-doa bid’ah menyerupai ahli kitab yang menciptakan doa-doa yang menyelisihi doa-doa yang dibawa nabi-nabi mereka, menyerupai dalam hal nada, senandung, goyangan, dan selain itu.

Kedelapan
Kebanyakan orang yang berpegang teguh dengan doa-doa bid’ah tidak mengetahui maknanya, tidak memerhatikan lafazh-lafazhnya, dan membacanya tanpa tadabbur. Padahal adab doa adalah menghadirkan hati dan ikhlas dalam meminta. Terlebih kebanyakan doa bid’ah itu berupa ungkapan-ungkapan yang disusun dari makna yang sulit dipahami dan gelap arahnya. Maka orang yang berdoa dengan doa bid’ah ini sebenarnya tidak sedang meminta dan berdoa, bahkan sekadar mengisahkan ucapan orang lain. Lebih memilih doa tersebut karena kebagusan susunan dan kekaguman ciptaannya daripada doa syar’i yang merupakan pengagungan terhadap doa yang ia susun, mengangkatnya di atas kedudukan yang semestinya di mana ia meyakini bahwa doanya memiliki kekhususan yang tidak ditemukan pada doa selainnya. Jika tidak demikian niscaya ia tidak merutinkan doanya siang dan malam bahkan sebagian mereka menegaskan bahwa wirid gurunya merupakan wirid yang paling sempurna dan lengkap.

Dari sini diketahui sejauh mana pelanggaran dan besarnya bahaya doa-doa ciptaan manusia atas kaum muslimin. Maka wajib bagi tiap muslim untuk berhati dan menjauhinya, mencukupkan diri dengan wirid yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang merupakan wirid yang paling bagus dan benar.

Dan kami memohon kepada Allah yang Maha Pemurah agar memberikan karunia kekokohan di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, mengikuti petunjuk, meniti jejak, dan menempuh manhajnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar doa dan Dekat.

Sumber: Tafsir Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil & Doa karya Asy-Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad (penerjemah: M. Hamdani), penerbit: Pustaka Ar-Rayyan, hal. 440-443.)

Dikutip dari : fadhlihsan.wordpress.com


Doa Perlindungan Dari Ilmu Yang Tidak Bermanfaat, Hati Yang Tidak Khusyu’ Dan Doa Yang Tidak Diterima


Rasulullah saw pernah mengajarkan sebuah doa kepada para sahabat ra,:



Allahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’ , wa qalbin laa yakhsya’ , wa ‘amalin laa yurfa’, wa du’aa-i laa yusma’.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, hawa nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak dikabulkan.”
(HR. Muslim no. 2722)


Doa Setelah Shalat Witir


Ada dua doa yang bisa diamalkan sebagai berikut:
Pertama:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
Subhaanal malikil qudduus –dibaca 3x-

Artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan” (HR. Abu Daud no. 1430, An-Nasai no. 1735, dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatkaan bahwa sanad hadits ini shahih).

Kedua:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Allahumma inni a’udzu bi ridhaoka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” -dibaca 1x-

Artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Cara Baca “Subhaanal Malikil Qudduus”

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari witirnya, beliau membaca ‘subhaanal malikil qudduus (sebanyak tiga kali)’, beliau memanjangkan di akhirnya.” (HR. An-Nasa’i no. 1700, Ibnu Majah no. 1182. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Ibnu ‘Abdirrahman bin Abza, dari bapaknya, ia berkata,

وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ

“Jika mengucapkan salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali lalu beliau mengeraskan suaranya pada ucapan yang ketiga.” (HR. An-Nasa’i no. 1733 dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Cara membacanya:
·         Mengeraskan bacaan terakhir berbeda dengan bacaan “subhaanal malikil qudduus” di pertama dan kedua.
·         Memanjangkan bacaan “qudduus” dengan empat atau enam harakat.

Apakah Ada Tambahan “Rabbil Malaikati war Ruuh”?
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ :« سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الآخِرَةِ يَقُولُ :« رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ »

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali dan di suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan, ‘Rabbil malaikati war ruuh.’ ” (HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi 3: 40 dan Sunan Ad-Daruquthni 4: 371. Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah yang diterima).
Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan yang diterima. Sehingga doa setelah witir bisa pula dengan ‘subhaanal malikil quddus’ sebanyak 3 kali lalu bacaan terakhir dikeraskan atau dipanjangkan lalu ditambahkan dengan rabbil malaikati war ruuh.