Baca Do'a Ini Ketika Ditimpa Kesulitan yang Sangat Berat



Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=UmL9UseFxrI 

Zikir Adalah Jalan Terdekat Menuju Allah



Janganlah kau meninggalkan zikir hanya karena ketidakhadiran hatimu di hadapan Allah saat berzikir! Kelalaianmu dari zikir kepada-Nya lebih buruk daripada kelalaianmu disaat berzikir kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran; dari zikir yang disertai kesadaran menuju zikir yang disertai dengan hadirnya hati; dari zikir yang disertai dengan hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain mengingat Allah.

Biasakanlah selalu berzikir karena zikir adalah jalan terdekat menuju Allah SWT dan tanda wujud kekuasaan-Nya. Siapa yang diberi kesempatan berzikir berarti ia telah diberi sebagian kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, jangalah tinggalkan zikir. Jangan kau tinggalkan zikir hanya karena merasa tidak bisa berkosentrasi saat berzikir akibat terlalu disibukkan dengan bisikan-bisikan setan dan hal-hal duniawi. Kelalaianmu untuk berzikir kepada-Nya lebih buruk daripada kelalaianmu saat berzikir kepada-Nya. Karena meninggalkan zikir sama saja menjauhkan diri dari Allah, baik secara hati maupun lisan. Berbeda halnya dengan lalai saat berzikir, meski hatimu jauh dari-Nya, namun lisanmu tetap dekat dengan-Nya. Oleh karena itu, engkau harus tetap berzikir kepada Allah walaupun hatimu lalai saat berzikir.

Semoga Allah menuntunmu dari zikir yang disertai kelalaian meunju zikir yang disertai keasadaran dan konsentrasi; dari zikir yang disertai kesadaran hati menuju zikir yang mengantarkan hati masuk kehadirat Illahi, sehingga kau merasa melihat-Nya saat berzikir dan tidak lalai dari-Nya; dari zikir yang disertai kehadiran hati  menuju zikir yang meniadakan segala hal selain Allah, termasuk zikir itu sendiri sehingga tanpa disadarinya, ia keluar dari zikirnya.

Dan yang demikian itu bagi Allah Adalah mudah(QS. Ibrahim {14}:20)

Ibnu Atha ‘Illah al-Iskandari

Mintalah Kepada Allah, Pasti Terkabul


Apa yang kau minta tak terhalang selama engkau meminta kepada Tuhanmu,
Namun apa yang kauminta tak akan datang
selama engkau mengandalkan dirimu sendiri.

Permintaan yang dimaksud pada hikmah di atas adalah bersifat umum, meliputi semua permintaan, baik itu yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Apa yang kau minta dan inginkan tidak akan terhalang selama dalam mencarinya kau tetap memperhatikan Tuhanmu, menghadirkan-Nya dalam hatimu, dan bersandar kepada-Nya agar memudahkan permintaan dan urusanmu. Namun permintaan itu akan sulit kau raih bila kau lalai dari-Nya dan bersandar kepada orang –orang sekitarmu atau pada kekuatan dirimu sendiri.

Barangsiapa menyerahkan segala kebutuhannya kepada Allah, berlindung dan bertawakkal kepada-Nya, Allah akan mencukupi kebutuhannya, mendekatkan yang jauh darinya, dan memudahkan segala yang sulit baginya. Barangsiapa yang mengandalkan ilmu dan akalnya serta bersandar pada kekuatan dan kemampuannya, Allah akan mempersulitnya dan membuatnya gagal. Apa yang diinginkan dan dibutuhkannya itu tidak akan mudah didapatkan dan sulit diwujudkan.

Ibnu Atha’illah al-Iskandari dalam kitab AL-Hikam


Ditundanya Pemberian Allah Jangan Melemahkan Semangatmu Untuk Meminta

Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kauinginkan.

Allah berfirman ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu” (QS:Al-Mu’min;60)

Doa yang pengabulannya ditunda, mungkin lebih baik bagi seseorang  daripada doa yang pengabulannya disegerakan. Karena bisa jadi,penundaan doa itu ditujukan agar ia semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah dan semakin merasa takut kepada Allah. Dalam situasi ini, biasanya syetan akan datang dan membisikkan “Jika benar tekadmu kuat, Tuhanmu pasti sudah mengabulkan doamu, menghilangkan sifat-sifat kemanusiaanmu yang buruk, dan mewujudkan segala keinginanmu.” Sehingga engkaupun tak sadar bahwa ditundanya pengabulan doa itu adalah lebih baik bagimu.

Bisa jadi juga ditundanya pengabulan doa tersebut disebabkan sifat-sifat burukmu yang terlalu banyak dan tidak bisa dihilangkan kecuali dalam waktu yang lama, sehingga mujahaddah dan riyadhah yang dilakukan masih belum berpengaruh pada pengabulan doa-doa.

Orang-orang arif mengumpakan alam ini dengan tanah yang ditumbuhi tumbuhan berduri, kadang durinya besar-besar dan banyak sehingga sulit dilalui dan bisa melukai. Kadang durinya kecil-kecil dan sedikit, dan mudah dihilangkan. Demikian juga sifat-sifat jiwa, ada yang bersifat buruk dan berjumlah banyak, sehingga untuk menghilangkannya butuh waktu lama dan perjuangan panjang. Terkadang ada juga sifat-sifat itu tidak terlalu buruk dan hanya sedikit sehingga tidak perlu waktu yang lama dan perjuangan yang panjang untuk membersihkannya. Ketika tujuan utama seseorang adalah menghilangkan sifat-sifat buruk jiwa, meski itu memakan waktu yang lama dan berakhir di ujung usia, semua penderitaan dan perjuangannya selama masa itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan tujuan utamanya.

Sumber: Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah Al-Iskandari

Doa Terebebas Dari Hutang


 Diantara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah doa kebebasan dar sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ المَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ

(Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghromi)

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang.”

Ada seorang sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan (kepada Allah) dari lilitan hutang (dengan membaca doa di atas)?” Beliau menjawab:

«إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ»

Artinya: “Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang, jika dia berbicara, maka (biasanya) dia berdusta. Dan jika dia berjanji, maka (biasanya) dia ingkari.”. [HR. Al-Bukhari no. 798]

Nabi shallallahu alaihi wasallam saja yang sudah jelas sebagai hamba Allah yang paling bertakwa dan takut kepada-Nya, paling jujur dan amanah, dan sudah pasti dosa-dosa beliau diampuni oleh Allah ta’ala beliau masih sering memohon perlindungan kepada Allah dari bahaya lilitan hutang dengan banyak membaca doa tersebut di atas, maka bagaimanakah dengan kita yang sudah barang tentu banyak memiliki kelemahan, kekurangan dan kesalahan?

Maka sudah sepantasnya kita pun memperbanyak permohonan perlindungan kepada Allah dari bahaya lilitan hutang dan perkara-perkara buruk lainnya.


Doa Mustajab saat Ayam Jantan Berkokok Dan Memejamkan Mata Orang Meninggal


Berikut kami kutipkan dari sebuah buku Al Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari rahimahullah serta kitab hadits Shahih Muslim tentang 2 waktu berdoa mustajabah yang banyak manusia tidak mengetahuinya

1. Saat mendengar ayam jantan berkokok.
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan”. [HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya no. 3303 dan Al-Adabul-Mufrad no. 1236]

2. Saat memejamkan mata orang yang meninggal.
Dari Ummu Salamah ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Abu Salamah (yang telah meninggal) dimana matanya masih dalam keadaan terbuka. Lalu beliau memejamkannya, dan bersabda : “Sesungguhnya ruh itu jika dicabut akan diikuti oleh mata”. Kemudian sejumlah orang dari anggota keluarganya ribut. Beliau pun lantas bersabda : “Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan”.[HR. Muslim no. 1920, Ahmad 6/297]

Semoga tatkala kita menjumpai kedua waktu tersebut, hati dan lisan kita senantiasa memanjatkan doa demi kebaikan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah ta’ala tidak membuat kita lalai dari beberapa waktu – waktu lain yang menjadikan doa diijabah oleh Rabbuna ‘azza wa jalla.

Sumber: https://fitrahfitri.wordpress.com


Pengaruh Pengaruh Jelek dari Doa-doa Bid’ah

Doa-doa syar’i dan dzikir-dzikir yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mempunyai ciri khusus yaitu sempurna isi dan maknanya. Lafazh-lafazh dan ungkapannya ringkas, makna serta kandungannya agung dan luas, mencakup segala kebaikan, meliputi tujuan-tujuan yang tinggi, cita-cita yang agung, dan kebaikan-kebaikan yang banyak. Oleh karena itu sebaiknya bagi setiap muslim bahkan wajib baginya bersungguh-sungguh sesuai kemampuannya untuk mempelajari, menghafal, dan beribadah dengannya, meninggalkan wirid-wirid dan doa-doa buatan manusia yang disusun oleh para syaikh sesat dan da’i batil serta yang menhalangi kebanyakan muslimin yang awam dan tidak mengerti dari doa-doa serta dzikir-dzikir yang disyariatkan.

Bagi yang memerhatikan keadaan sebagian kaum muslimin utamanya orang-orang yang tergabung dalam tarekat sufiyah akan menemukan bahwa mereka justru sibuk dengan dzikir-dzikir buatan manusia dan doa-doa bid’ah. Mereka membacanya siang dan malam, pagi dan sore, meninggalkan kitabullah, berpaling dari doa-doa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Kemudian masing-masing orang dari kelompok itu mempunyai wirid sendiri yang mereka baca dengan cara khusus dan gaya tertentu. Jadi tiap kelompok dari tarekat sufiyah mempunyai doa dan wirid khusus dan

“Masing-masing golongan bangga akan ajaran yang ada pada mereka.” (Al-Mu’minun: 53)
Masing-masingnya meyakini bahwa wiridnya lebih afdhal daripada wirid tarekat lainnya!
Dan tidak diragukan lagi bahwa doa-doa bid’ah itu mempunyai dampak dan pengaruh yang disesalkan serta jelek bagi kaum muslimin menyangkut akidah dan amal ibadahnya di mana pengaruh jeleknya banyak dan tidak terhitung. Syaikh Jailan bin Khadlar al-‘Arusi telah meringkasnya dalam kitabnya yang bagus Du’a wa Manzilatuhu minal Aqidah Al-Islamiyyah (Doa dan Kedudukannya dalam Aqidah Islamiyah) yang akan saya sebutkan dalam beberapa poin berikut ini:

Pertama: 
Doa-doa bid’ah tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan dari tujuan ibadah-ibadah seperti menyucikan dan membersihkan jiwa dari dosa-dosa, mendekatkan diri kepada pencipta, ketergantungan kepada Rabb dengan harap, cinta, dan takut. Jadi doa tersebut diibaratkan tidak dapat memuaskan orang yang haus dan mengenyangkan orang yang lapar.

Sementara doa-doa yang syar’i merupakan doa yang manjur yang mengobati penyakit-penyakit jasmani dan jiwa serta hawa nafsu setan. Barangsiapa menggantikan doa syar’i dengan doa selainnya sungguh ia menggantikan sesuatu yang baik dengan sesuatu yang jelek.

Kedua
Doa-doa bid’ah menghilangkan pahala dan ganjaran yang besar yang dapat dihasilkan dari percikan karunia Rabb bagi orang yang berpegang, menjaga, dan mempraktikkan doa-doa syar’i. Sebaliknya doa-doa bid’ah dapat menghilangkan pahala serta mengundang murka dan marah Allah.

Ketiga
Doa-doa bid’ah tidak dikabulkan padahal tujuan utama dan pondasi bagi orang yang berdoa pada umumnya adalah minta dikabulkan permintaannya, meraih keinginannya, dan terhindar dari sesuatu yang dibencinya. Doa-doa yang bid’ah tidak menghasilkan ini semua. Dalam hadits disebutkan:

“Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang bukan dari perintahku maka ia tertolak.” (Shahih Muslim, 3/1343)

Keempat
Pada umumnya doa-doa bid’ah mengandung perkara yang dilarang secara syar’i. Terkadang yang dilarang itu bagian dari perantara syirik, karena kebid’ahan itu pada umumnya menyeret pada kesyirikan dan kesesatan. Termasuk doa bid’ah yang menyeret kepada kesyirikan adalah tawassul bid’ah. Dialah yang membuka pintu untuk berdoa, meminta tolong dan bantuan kepada selain Allah. Terkadang yang dilarang merupakan perkara yang melampaui batas dalam doa seperti melampaui batas dalam hal adab berbicara kepada Allah dan terkadang yang dilarang itu mengandung kebid’ahan lain berupa pembatasan doa pada waktu tertentu dan sifat khusus, mengeraskan suara dengan nada yang sama, (dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, sajak-sajak yang tersusun serta susunan bahasa yang rancu yang tidak enak didengar serta dianggap jelek oleh perasaan yang halus.

Kelima: 
Doa-doa bid’ah yang telah dibiasakan dan dipegang teguh akan menjauhkan orang yang komitmen dengannya kembali bertaubat kepada doa-doa yang disyariatkan kecuali orang yang diberi taufik dan hidayah kepada kebaikan. Karena manakala hati sibuk dengan kebid’ahan maka ia berpaling dari sunnah-sunnah, di mana orang yang komitmen dengan doa bid’ah meyakininya sebagai doa yang disyariatkan serta membelanya, tidak mau mendengar hujjah maupun dalil.

Keenam: 
Menggunakan doa-doa bid’ah dan meninggalkan doa-doa yang disyariatkan termasuk menggantikan perkara yang baik dengan perkara yang kotor, yang bermanfaat dengan yang membahayakan, yang baik dengan kejelekan, yang demikian ini tidak diragukan lagi merupakan kerugian yang nyata.

Ketujuh
Doa-doa bid’ah menyerupai ahli kitab yang menciptakan doa-doa yang menyelisihi doa-doa yang dibawa nabi-nabi mereka, menyerupai dalam hal nada, senandung, goyangan, dan selain itu.

Kedelapan
Kebanyakan orang yang berpegang teguh dengan doa-doa bid’ah tidak mengetahui maknanya, tidak memerhatikan lafazh-lafazhnya, dan membacanya tanpa tadabbur. Padahal adab doa adalah menghadirkan hati dan ikhlas dalam meminta. Terlebih kebanyakan doa bid’ah itu berupa ungkapan-ungkapan yang disusun dari makna yang sulit dipahami dan gelap arahnya. Maka orang yang berdoa dengan doa bid’ah ini sebenarnya tidak sedang meminta dan berdoa, bahkan sekadar mengisahkan ucapan orang lain. Lebih memilih doa tersebut karena kebagusan susunan dan kekaguman ciptaannya daripada doa syar’i yang merupakan pengagungan terhadap doa yang ia susun, mengangkatnya di atas kedudukan yang semestinya di mana ia meyakini bahwa doanya memiliki kekhususan yang tidak ditemukan pada doa selainnya. Jika tidak demikian niscaya ia tidak merutinkan doanya siang dan malam bahkan sebagian mereka menegaskan bahwa wirid gurunya merupakan wirid yang paling sempurna dan lengkap.

Dari sini diketahui sejauh mana pelanggaran dan besarnya bahaya doa-doa ciptaan manusia atas kaum muslimin. Maka wajib bagi tiap muslim untuk berhati dan menjauhinya, mencukupkan diri dengan wirid yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang merupakan wirid yang paling bagus dan benar.

Dan kami memohon kepada Allah yang Maha Pemurah agar memberikan karunia kekokohan di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, mengikuti petunjuk, meniti jejak, dan menempuh manhajnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar doa dan Dekat.

Sumber: Tafsir Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil & Doa karya Asy-Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad (penerjemah: M. Hamdani), penerbit: Pustaka Ar-Rayyan, hal. 440-443.)

Dikutip dari : fadhlihsan.wordpress.com