Doa-doa Nabi Nuh as


Nabi Nuh as adalah salah seorang nabi Ilahi yang memiliki umur panjang sehingga umurnya menjadi perumpamaan.

Nabi Nuh as menyeru kaumnya untuk menyembah Allah swt dan makrifat, dan melarang mereka dari menyembah berhala dan kebodohan. Umat nabi Nuh as yang terbiasa dengan keyakinan-keyakinan nenek moyang mereka dan jauh dari berfikir dan merenung, mengancam nabi Nuh as: “Mereka berkata: Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.”[1]

Nabi Nuh as menengadahkan tangan dan berdoa:
رَبِّ إِنَّ قَوْمى‏ كَذَّبُونِ * فافْتَحْ بَيْنى‏ وَبَيْنَهُمْ فَتْحاً وَ نَجِّنى‏ وَ مَنْ مَعِىَ مِنَ المُؤمِنينَ

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku.”[2]

Allah swt dalam al-Qur’an Karim berfirman: “Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.”[3]

Di dalam al-Qur’an terdapat sebuah surat bernama surat Nuh dan seluruh isi surat ini berhubungan dengan kisah nabi Nuh as.

Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih. Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.”[4]

Seruan dan tabligh ini tidak membangunkan kaum beliau as dan dengan alasan ini nabi Nuh as menyatakan kepada Allah swt sambil berkata: “Nuh berkata: Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”[5]

Nabi Nuh as kemudian menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt di alam penciptaan kepada mereka. Namun tetap saja mereka tidak sadar dan saling memesakan kepada sesama mereka supaya tidak berpaling dari berhala-berhala mereka. Mereka terjerumus ke dalam dosa-dosa dan pada akhirnya mereka menjadi penghuni neraka.

Pada kesempatan ini nabi Nuh as mengangkat tangan berdoa dan menyatakan kepada Allah swt:

رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأَرْضِ مِنَ الكافِرِينَ دَيّاراً * إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلّا فاجِراً كَفّاراً * رَبِّ اغْفِرْ لِى‏ وَلِوالِدَىَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمناً وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِناتِ وَلا تَزِدِ الظّالِمِينَ إِلّا تَباراً

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan.”[6]

Allah swt dalam surat Al-Qamar berfirman: “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: Dia seorang gila (kerasukan jin) dan dia sudah pernah diberi ancaman.”[7]

Nabi Nuh as pun menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah swt:
أَنّى‏ مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

“Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan (dalam memberikan petunjuk kepada umat), oleh sebab itu tolonglah (aku).”[8]

Dalam surat Al-Mukminun ditegaskan:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”[9]

Dalam kondisi ini nabi Nuh as mengangkat tangan berdoa:
رَبِّ انْصُرْنى بِما كَذَّبُونِ

“Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.”[10]

Allah swt berfirman: “Lalu Kami wahyukan kepadanya: Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah:

اَلْحَمْدُ للَّهِ‏ِ الَّذى نَجَّينا مِنَ الْقَوْمِ الظالمِينَ * وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنى مُنْزَلاً مُبارَكاً وَأنْتَ خَيْرُ المُنْزِلينَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang lalim. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”[11]

Nabi besar Islam Muhammad saw bersabda kepada Imam Ali as: “Wahai Ali! Setiapkali engkau turun di suatu tempat katakan:

اللّهمّ أنزِلني مُنْزَلاً مبارَكاً وأنت خير المنزِلين

karena kebaikan tempat tersebut akan menjadi bagianmu dan keburukannya akan menjauh darimu.”[12]

Dalam hadis “400” yang Imam Ali as menjelaskan 400 ucapan pendek dalam sopan santun kehidupan dan penghambaan kepada para sahabat beliau disebutkan:[13] “Setiapkali kalian turun di suatu tempat katakanlah:

اَللَّهُمَّ أَنْزِلْنَا مُنْزَلاً مُبَارَكاً وَ أَنْتَ خَيْرُ المُنْزِلِينَ

Nabi Nuh as selama 950 tahun mentablighkan penyembahan kepada Yang Esa, kesucian dan kebenaran di tengah-tengah umat beliau, akan tetapi 10 abad tabligh dan dakwah tidak menyadarkan kaum yang terlelap dalam kebodohan dan membangunkan mereka, dan dari semua benih tauhid dan pengesaan Tuhan tidak bersinggah dan mekar selain sangat sedikit di hati yang lebih keras dari batu. Disamping itu, mereka mengolok-olok nabi Ilahi as dan menuduhkan tuduhan-tuduhan yang mereka sendiri layak menerimanya serta menganggap kaum Mukminin yang bersama beliau as sebagai manusia-manusia yang rendah…

Dengan latar belakang kemaksiatan dan kejahatan seperti inilah turun hujan yang sangat lebat dari langit dengan perintah Allah swt dan air bersumber dari bawah tanah serta seluruh tempat dilanda banjir dan topan.

Nabi Nuh as yang telah siap menghadapi persyaratan-persyaratan semacam ini dari sebelumnya berkata kepada kaum Mukminin dan orang-orang yang bersamanya supaya naik ke atas bahtera yang beliau buat dengan tangan beliau sendiri. Nabi Nuh ketika menaiki bahtera berkata:

بِسْمِ اللَّهِ مَجْريها وَمُرْسيها إِنَّ رَبّى لَغَفُورٌ رَحيم

“Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14]

 Ketika itu air dari langit dan bumi bertemu dan memenuhi semua tempat dan menelan orang-orang yang berbuat keji pada hari itu. Sementara itu nabi Nuh as dan orang-orang yang bersama beliau menaiki bahtera keselamatan dan bergerak di atas permukaan air. Ketika air memenuhi semua tempat dan menyeret seluruh orang yang tersesat dan keras kepala kepada kematian, dikeluarkan perintah Ilahi untuk penghentian hujan dan gumpalan air dari dalam bumi dan bahtera nabi Nuh as berlandas dengan tenang di atas gunung “Judiy”. Di tengah-tengah kejadian tersebut, ketika nabi Nuh as melihat puteranya yang tidak berada pada jalan yang benar berada di tengah orang-orang yang tenggelam mengangkat tangan sambil berdoa:

رَبِّ إِنَّ ابْنى‏ مِنْ أَهْلى‏ وَإِنَّ وَعْدَكَ الحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحاكِمينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku (dan Engkau telah berjanji menyelamatkankan keluargaku), dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”[15]

Allah swt berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”[16]

Nabi Nuh as sadar dan berkata:

رَبِّ إِنّى‏ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْئَلَكَ ما لَيْسَ لى بِهِ عِلْمٌ، وَإِنْ لا تَغْفِرْ لى وَتَرْحَمْنى أَكُنْ مِنَ الْخاسِرينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”[17]

[1] QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 116.
[2] QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 117 – 118.
[3] QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 119 – 120.
[4] QS. Nuh [71]: 1 – 4.
[5] QS. Nuh [71]: 5 – 12.
[6] QS. Nuh [71]: 26 – 28.
[7] QS. Al-Qamar [54]: 9.
[8] QS. Al-Qamar [54]: 10.
[9] QS. Al-Mukminun [23]: 23.
[10] QS. Al-Mukminun [23]: 26. 
[11] QS. Al-Mukminun [23]: 28 – 29.
[12] Tafsir Ash-Shafi, jilid 3, hal. 399.
[13] Al-Khishal, hal. 634.
[14] QS. Hud [11]: 41.
[15] QS. Hud [11]: 45.
[16] QS. Hud [11]: 46.
[17] QS. Hud [11]: 47.


Etika Dalam Berdoa Adalah Syarat Lain Agar Doa Cepat Terkabul

Siapapun hamba Allah boleh berdoa dalam kondisi, keadaan dan Bahasa apapun kepada Allah SWT. Agar doa cepat terkabul  sebaiknya dilakukan pada tempat –tempat dan waktu-waktu yang mustajab. Namun syarat lain yang tidak kalah penting dalam berdoa untuk melengkapi kedua syarat di atas, yaitu adanya etika tertentu dalam berdoa.  Ada adab-adab dan syarat-syarat tertentu yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba yang mengerti, agar doa kita lebih bernilai dan cepat terkabul. Salah satunya adalah yang tersirat dalam doa nabi Yusuf as.


Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang saleh”(QS Yusuf, 101).

Berikut makna dan etika dalam berdoa yang tersirat dalam doa nabi Yusuf as:

1.    Puja-pujinya panjang, permintaannya pendek.

Nabi yusuf tidak langsung meminta apa keinginannya kepada Allah. Dia mendahuluinya dengan memuji Allah. Permintaan beliau hanya di akhir doanya dan hanya satu kalimat, sementara kalimat puja puji nya kepada Allah melebihi panjang doanya.

2.    Sampaikan apa-apa yang telah kita terima dari Allah.Menyampaikan dalam doa nikmat-nikmat yang pernah kita terima dari Allah menunjukkan rasa bersyukur kita kepada Allah. Dan itu juga merupakan salah satu bentuk pujian hamba kepada Allah SWT. Nabi Yusuf as melakukan itu dalam doanya.

3.    Berdoa tentang akhirat ketika berada di tempat mewah dan senang.Nabi yusuf as berdoa kepada Allah dengan doa ini ketika beliau berada dalam puncak kekuasaannya. Artinya, berdoa bukan hanya ketika seorang hamba dalam keadaan susah dan ditimpa musibah seperti yang banyak dilakukan orang. Berdoa itu seharusnya juga dilakukan ketika hamba berada dalam keadaan senang.

4.       Meminta khusnul khatimah.Ketika Nabi Yususf as berada di puncak kekuasannnya, beliau tidak meminta ditambah kenikmatan dan kekuasaan. Beliau ternyata minta wafat dalam khusnul khatimah, padahal beliau adalah seorang nabi dan rosul. Beliau lebih mengingat akhir daripada dunia. aAdi dalam keadaan senangpun seorang hamba di sarankan untuk berdoa bagi akhiratnya.


Makna yang terkandung dalam doa nabi Yusuf di atas menyiratkan sebagian etika yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim. Mari kita membenahi etika dalam berdoa agar doa kita senantiasa dikabulkan oleh Allah SWT.


Wallahu a’lam 

Satu Kalimat yang Dapat Patahkan Punggung Iblis


Iblis dahulunya adalah penghuni surga yang paling dekat dengan Allah SWT. Namun, Ia begitu sombong dan membangkang ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Akhirnya, Iblis diusir dari surga dan menjadi musuh abadi Allah SWT.

Tidak tanggung-tanggung, Iblis memiliki misi untuk membawa sebanyak-banyaknya manusia agar terseret ke lembah nista. Berbagai upaya dilakukan agar manusia mengikuti perintahnya, baik dari arah depan, belakang, kanan dan kiri.

Keturunan Adam pun tidak berdaya dengan tipu daya iblis sehingga terjerumus kepada perbuatan dosa.  Namun selalu ada upaya untuk menghalau mereka. Ternyata ada sebuah kalimat yang dapat mematahkan punggung iblis dan membuat tidak berdaya. Kalimat apakah yang dimaksud?

Cara terbaik untuk membentengi diri dari godaan iblis adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah SWT. Jika Allah SWT sudah melindungi hamba-Nya, maka tidak ada satupun makhluk yang bisa mengganggu hamba tersebut.

Sebaik-baiknya perlindungan diri dari godaan iblis adalah dengan kalimat-kalimat thayyibah yang langsung direkomendasikan oleh Allah dalam Al-Qur;an serta petuah Rasulullah SAW dalam banyak hadistnya.

Kalimat itu sanggup binasakan setan (meskipun ia bisa hidup kembali) dan (dengan kalimat itu) bisa mematahkan punggung iblis. Terkait kalimat thayyibah ini, Imam Mujahid juga berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang mampu mematahkan punggung iblis melebihi kalimat Laa ilaaha illallaah.”

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacalah ‘Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan astaghfirullah (Aku meminta ampun kepada Allah), dan perbanyaklah!”

“Karena,” lanjut Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Maushili dari Abu Bakar ash-Shiddiq, “iblis berkata, ‘Aku membinasakan anak Adam dengan dosa. Dan, mereka membinasakanku dengan Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan astaghfirullah (Aku meminta ampun kepada Allah).”

Lanjut setan mengatakan, “Ketika aku melihat itu, aku membinasakannya dengan hawa nafsu dan mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kalimat thayyiban tersebut tidak hanya bisa melindungi diri dari bisikan dan godaan iblis dan pengikutnya. Akan tetapi juga bisa menjadi senjata ampun agar kita dikaruniai surga jika dibaca saat akhir hayat. Selain itu, memperbanyak istighfar akan diberikan jaminan oleh Allah Ta’ala agar rezeki yang dilimpahkan penuh dengan keberkahan. 


Doa Untuk Pemimpin Negeri


Seorang Ulama Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

 “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan doa tersebut kepada pemimpin.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa bisa demikian?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.”

Marilah senantiasa kita sempatkan diri kita untuk berdoa bagi pemimpin kita demi kemasalahatan banyak umat muslim.  Berikut doa-doa bagi pemimpin yang diajarkan dalam sunnah.

Doa pertama
اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

(Allahumma inni a’udzubika min imratisshibyan was sufaha’)

“Yaa Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.”

Doa kedua

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Allahumma laa tusallith ‘alainaa bidzunubinaa man laa yakhafuka fiinaa wa laa yarhamunaa)

“Yaa Allah -dikarenakan dosa-dosa kami- janganlah Engkau kuasakan (beri pemimpin) orang-orang yang tidak takut kepada-Mu atas kami dan tidak pula bersikap rahmah kepada kami.”

Doa ketiga

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ


(Allahumma ashlih wulaata umuurina, Allahumma waffiqhum limaa fiihi sholaahuhum washolaa hul islaami walmuslimiin. Allahumma a’inhum ‘alalqiyaami bimahaamihim kamaa amartahum yaa robbal’aalamiin. Allhumma ab’id ‘anhum bithoona tassuui walmufsidiina waqorrib ilaihim ahlalkhoiri wannaa shihiina yaa robbal’aalamiina, Allahumma ashlihwulaa ta umuuril muslimiina fiikullimakaan.)

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”


Doa Ini Mesti Sering Diucapkan Ketika Mencapai Umur 40 Tahun


 “Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatmu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku.  Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu, dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadamu)”(Surah al-Ahqaf, 46:15)

Al-Qur'an yang telah menyebutkan umur 40 tahun dengan tegas itu menjadi perhatian. Sehingga kita lihat, saat memasuki usia ini para ulama salaf mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya sebagai hari-hari terbaik dalam hidupnya.
Allah Ta'ala berfirman,  
حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Keistimewaan Umur 40 Tahun
Sebagian orang menyebut, umur empat puluh tahun penuh teka-teki dan penuh misteri. Sehingga terbit sebuah buku berjudul, "Misteri Umur 40 tahun" yang diterbitkan pustaka al-tibyan – Solo, diterjemahkan dari buku berbahasa Arab, Ya Ibna al-Arba'in, oleh Ali bin Sa'id bin Da'jam.

Seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun.

Al-Tsa'labi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah menyebutkan umur 40 tahun karena ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan maupun keselamatannya."

Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata, "Mereka berkata (yakni para salaf), bahwa jika seseorang sudah mencapai umur 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya."

Allah Ta'ala telah mengangkat para nabi dan Rasul-Nya, kebanyakan, pada usia 40 tahun, seperti kenabian dan kerasulan Muhammad, Nabi Musa, dan lainnya 'alaihim al-Shalatu wa al-Sallam. Meskipun ada pengecualian sebagian dari mereka.

Imam al-Syaukani rahimahullah berkata, "Para ahli tafsir berkata bahwa Allah Ta'ala tidak mengutus seorang Nabi kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun."
Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada umumnya, usia 40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi memiliki nilai lebih dan khusus.

Dihikayatkan, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang laki-laki yang shalih, cerdas, sabar, murah hati, berwibawa dan terhormat. Ia berkata, "manusia yang paling sempurna akal dan pikirannya adalah apabila telah mencapai usia 40 tahun. Itu adalah usia, di mana pada usia tersebut Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan pikiran manusia akan sangat jernih pada waktu sahur."

Disebutkan tentang biografi al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, "Bahwa ketika mencapai umur 40 tahun ia berkonsentrasi untuk beribadah dan memutuskan diri dari hubungan dengan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, dan ia berpaling dari semua urusan dunia dan umat manusia, seakan-akan ia tidak pernah kenal seorangpun dari mereka. Dan ia terus menyusun karya-karya tulisnya. . ." 

Sumber:


Tips Agar Doa Mustajab Dari Aa Gym


Alhamdulillah. Tiada tuhan selain Alloh Swt., Dzat Yang Maha Agung yang telah menciptakan kita, yang mengurus diri kita, yang Maha Tahu apapun yang terjadi pada diri kita, Maha Tahu segala kebutuhan kita, Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, Alloh Swt. menyuruh kita berdoa kepada-Nya, bukan karena Alloh tidak tahu. Apapun yang kita doakan, pasti Alloh tahu. Doa itu bukan untuk memberi tahu Alloh tentang apa yang kita butuhkan atau apa yang kita inginkan. Karena sesungguhnya Alloh Maha Tahu segala-galanya.

Doa yang baik adalah doa yang menjadi ibadah. Doa yang baik adalah doa yang membuat kita masuk kepada posisi benar-benar sebagai hamba Alloh yang bergantung kepada-Nya dan benar-benar menuhankan-Nya. Jadi doa itu selain dari sekedar mengucap, namun yang terpenting adalah hati kita betul-betul merunduk, mengharap dan yakin kepada Alloh Swt. Nah, kalau doanya sudah seperti ini maka insyaa Alloh dekat dengan dikabulkannya.

Karena tanpa kita berdoa pun sebenarnnya Alloh sudah mengetahui kebutuhan kita, bahkan Alloh memenuhi kebutuhan kita, baik kita sadari ataupun tidak. Lebih banyak yang tidak kita minta namun Alloh berikan, karena kita juga tidak tahu apa saja sebenarnya yang kita butuhkan. Tapi sejak kita terlahir di dunia ini sampai hari ini, banyak kebutuhan kita yang Alloh penuhi.

Lalu untuk apa Alloh menyuruh kita berdoa? Tiada lain adalah untuk kebaikan kita sendiri. Bukan karena Alloh membutuhkan sesuatu dari kita, tapi karena kitalah yang membutuhkan-Nya. Kita mengakui atau tidak akan kebesaran dan keagungan Alloh, Alloh tetap Maha Sempurna. Alloh tidak berkurang keagungan-Nya karena kita membangkang, dan tidak bertambang kemuliaan-Nya karena kita taat.

Doa itu adalah ibadah bagi orang yang beriman. Rosululloh Saw. bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Kemudian, doa adalah intisari dari ibadah, sebagaimana sabda Rosululloh Saw., “Doa adalah intisari ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Jadi bagi seseorang yang ingin doanya dikabulkan oleh Alloh Swt. janganlah ragu untuk yakin pada janji Alloh Swt. manakala Dia berfirman, “..Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min [40] : 60)

Demikianlah saudaraku, marilah kita benar-benar yakin akan janji Alloh Swt. Hati yang yakin akan mendorong doa terpanjatkan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan kepada kekuasaan-Nya. Tiada yang mustahil bagi Alloh dan Alloh pasti menemati janji-Nya. Wallohua’lam bishowab.

Oleh: KH. AbdullahGymnastiar ( Aa Gym )


Bolehkah Mendoakan Mayit Sesudah Dikuburkan?


Setelah mayit dikuburkan, para pengantarkan dianjurkan mendoakannya dengan ampunan dan keteguhan sebelum bubar ke rumah.

Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“Apabila Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam selesai menguburkan mayit (jenazah) beliau berdiam di sisinya, lalu bersabda: Mintakan ampunan untuk suadara kalian dan mohonkan keteguhan untuknya, karena sekarang dia akan ditanya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani juga menyatakan shahih dalam Shahih Abu Daud)

Kebiasaan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam setelah menguburkan mayit beliau berdiam sejenak di sisi kuburan untuk mendoakannya. Terkadang beliau menyampaikan nasihat kepada para sahabatnya tentang kematian dan anjuran untuk menyiapkan diri menghadapinya. Terkadang beliau mengingatkan mereka untuk mendoakan si mayit dari kebaikan yang dibutuhkannya saat itu; yaitu ampunan dan doa keteguhan dalam menjawab pertanyaan di kubur.

Tatacara yang utama dalam memintakan ampunan untuk si mayit dan mendoakan keteguhan untuknya adalah sendiri-sendiri. Tidak dipimpin seorang imam lalu yang lain mengaminkannya. Karena dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengingatkan kepada para sahabatnya untuk memintakan ampunan dan mendoakan keteguhan bagi si mayit, beliau tidak memimpin doa. Bahkan beliau diam sejenak untuk berdoa sendiri bagi si mayit.

Al-Syaikh Muhammad bin Utsaimin Rahimahullah tentang mendoakan mayit setelah dikuburkan dengan berjamaah. Beliau menjawab,

ليس هذا من سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ، ولا من سنة الخلفاء الراشدين رضي الله عنهم ، وإنما كان الرسول صلى الله عليه وسلم يرشدهم إلى أن يستغفروا للميت ويسألوا له التثبيت ، كل بنفسه ، وليس جماعة

“Ini bukan dari sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak pula dari sunnah (kebiasaan) khulafa’ rasyidin Radhiyallahu 'Anhum. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hanya mengarahkan mereka (para sahabat) untuk memintakan ampunan bagi si mayit dan memohonkan keteguhan untuknya. Setiap orang sendiri-sendiri, tidak berjamaah.” (Fatawa Al-Janaiz: 228)

Jika demikian, apakah praktek mendoakan mayit setelah dikuburkan dengan dipimpin seorang imam dan diaminkan yang hadir tidak dibolehkan?

Menurut Syaikh bin Bazz Rahimahullah, dibolehkan mendoakan mayit setelah dikuburkan dengan cara sendiri-sendiri (masing-masing). Boleh juga dengan cara lain, seseorang berdoa untuk si mayit dengan keras lalu yang hadir mengaminkannya. (Majalah al-Buhuts al-Islamiyah: 68/53)

Praktek di masyarakat, jika di suruh doa sendiri-sendiri banyak yang ‘merasa’ tidak mampu. Bahkan, praktek di lapangan, banyak yang hanya diam saja. Akibatnya, mayit tidak mendapatkan kebaikan yang dibutuhkannya di saat itu dari istighfar dan doa orang yang mengantarkannya.

Jika masyarakat kita sudah paham, maka yang utama setiap orang yang mengantarkan mendoakan si mayit sendiri-sendiri. Jika tidak, boleh imam (tokoh) berdoa untuk si mayit dan diaminkan yang hadir. Inilah yang utama dan paling dekat kepada sunnah. Wallahu A’lam.


Oleh: Badrul Tamam di www.voa-islam.com

Doa Agar Penglihatan Jin Terhalangi


Al Qur’an menjelaskan, syetan dari kalangan jin bisa melihat manusia sedangkan manusia tidak bisa melihat mereka. Lalu, bagaimana agar jin tidak bisa melihat kita, khususnya ketika kita membuka aurat di rumah? Untungnya Rasulullah telah mengajarkan cara menutup penglihatan jin.

Ayat yang menunjukkan bahwa syetan dari kalangan jin bisa melihat manusia adalah surat Al A’raf ayat 27:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

”Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs. Al-A’raf:27)

Ayat ini juga menjadi dalil bahwa manusia tidak bisa melihat jin dalam bentuknya yang asli. Kecuali orang-orang yang dikecualikan seperti Nabi Muhammad dan Nabi Sulaiman. Dan sebaliknya jin bisa melihat manusia.

Ada Doa yang diajarkan Nabi agar penglihatan jin tertutup dari melihat aurat manusia. Agar jin tidak melihat (aurat) kita ketika kita membuka pakaian atau ganti baju, Rasulullah mengajarkannya kepada kita. Beliau bersabda:

ستر ما بين أعين الجن و عورات بني آدم إذا وضع أحدهم ثوبه أن يقول : بسم الله

“Yang bisa menghalangi pandangan mata jin dan aurat anak Adam (manusia) adalah ketika hendak menanggalkan pakaian hendaklah membaca Bismillah” (HR. As Suyuthi, shahih menurut Al Albani)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat anak Adam (manusia) adalah ketika seseorang hendak masuk ke kamar mandi hendaklah membaca Bismillah” (HR. Tirmidzi, shahih menurut Al Albani).

Demikianlah caranya. Sederhana, tidak perlu ritual khusus. Cukup dengan membaca bismillah, sebuah kalimat singkat yang merupakan inti dari penyerahan diri kita kepada Allah, menyandarkan segala perkara gaib kepada Allah dan meminta perlindungan hanya kepada Allah. Hanya dengan membaca bismillah, saat itu kita akan terlindungi dari pandangan mata jin. Hanya dengan membaca bismillah, inilah cara singkat menutup penglihatan jin sehingga tak mampu lagi melihat kita.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Salawat dan salam teruntuk Rasulullah atas segala ajarannya yang mulia.

Dari bersamadakwah.net


Bacaan yang Membuat Syetan Muntah-Muntah


Hari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk menyaksikan seorang laki-laki tengah makan. Tiba-tiba Rasulullah tertawa. Tentu sebagian sahabat heran mengapa beliau tertawa. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa beliau baru saja melihat syetan muntah-muntah akibat sebuah bacaan singkat.

Bacaan apakah itu? Bacaan itu tidak lain adalah basmalah. Ketika seseorang makan dan tidak membaca basmalah, syetan ikut makan bersamanya. Syetan turut menikmati makanan itu dengan lahapnya. Namun, ketika di tengah-tengah makan orang tersebut ingat bahwa dirinya belum membaca basmalah, lalu ia membacanya saat itu syetan pun memuntahkan seluruh makanan yang tadi ia makan.

Abu Daud meriwayatkan sabda Rasulullah tersebut dalam Sunan-nya:

عَنْ أُمَيَّةَ بْنِ مَخْشِىٍّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسًا وَرَجُلٌ يَأْكُلُ فَلَمْ يُسَمِّ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلاَّ لُقْمَةٌ فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ فَضَحِكَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَقَاءَ مَا فِى بَطْنِهِ

Dari Umayyah bin Makhsiy -yakni salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk, ada seorang laki-laki yang makan dan ia tidak membaca basmalah hingga makanannya hampir habis tinggal satu suapan. Lalu ketika ia memasukkan suapan itu ke mulutnya ia (ingat dan) membaca “Bismillahi awwalahu wa aakhirahu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas tertawa. Kemudian beliau bersabda: “Syetan masih terus makan bersamanya, tapi ketika ia membaca Basmalah, syetan langsung memuntahkan apa yang ada di perutnya.” (HR. Abu Daud)

Demikianlah dahsyatnya bacaan Basmalah. Kita dianjurkan untuk membaca basmalah dalam memulai segala perbuatan yang baik. Termasuk makan. Dengan membaca basmalah, sesungguhnya kita tengah mencanangkan niat beramal shalih. Dengan niat beramal shalih ikhlas karena Allah, perbuatan-perbuatan yang asalnya berhukum mubah menjadi berpahala bagi kita.

Dari hadits ini, para ulama juga mengajarkan, jika kita lupa membaca basmalah ketika hendak makan dan baru ingat ketika di tengah-tengah makan, hendaklah kita segera membacanya dengan menambahkan awwalahu wa aakhirahu sehingga menjadi

بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Artinya: dengan nama Allah di awalnya dan di akhirnya.

Dan syetan dari golongan jin yang tadinya ikut makan bersama kita akan muntah-muntah. Meskipun kita tidak pernah bisa melihatnya.

Wallahu a’lam bish shawab


sumber: http://bersamadakwah.net

Manakah Yang Utama, Istighfar atau Bertasbih?

Istighfar adalah ucapan atau tindakan memohon maaf atau ampun kepada Allah SWT atas kesalahan dan dosa. Sedangkan tasbih adalah bacaan atau ucapan puji-pujian kepada Allah SWT. Lafal-lafal istighfar dan tasbih ini bermacam-macam dari yang pendek hingga panjang.

Lafal umum istigfar:


Lafal umum tasbih :


Jika Anda pernah bertanya manakah yang lebih baik atau utama dibaca diantara istighfar atau tasbih?

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh seseorang kepada imam Ibnu Al-Jauziy. Dan beliau menjawab dengan menggunakan ilustrasi seperti ini,”Pakaian yang kotor lebih membutuhkan sabun daripada minyak wangi” maksudnya, jika raga manusia diilustrasikan sebagai pakaian yang kotor (penuh dengan noda/dosa) maka istighfar lebih utama dilakukan untuk membersihkan noda tersebut baru kemudian menghiasinya dengan minyak wangi.

Kedua ucapan tersebut (istighfar dan tasbih) adalah kalimat mulia, Kita dianjurkan untuk selalu mengucapkannya sebanyak-banyaknya. Namun istighfar dianjurkan untuk terlebih dulu dibaca, mengingat tidak ada manusia yang terlepas dari perbuatan dosa. Baru kemudian diiringi dengan memperbanyak membaca tasbih.

Wallahu a’lam


Doa Ketika Dihadang Perampok


Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang kisah ashabul ukhdud dan perjalanan perjalanan pemuda soleh bersama raja yang zalim. Dalam kisah itu, sang pemuda soleh ini berkali-kali diancam oleh raja agar meninggalkan ajaran islam dan hendak dibunuh oleh sang raja dengan beraneka macam cara, namun semuanya gagal.

Yang pertama, raja menyuruh prajuritnya untuk membawa pemuda ini ke puncak gunung. Setelah sampai di puncak, lemparkan dia jika tidak mau keluar dari islam. Sesampainya di puncak gunung, pemuda soleh ini berdoa,

اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

ALLAHUMMA IKFINIIHIM BIMA SYI’TA

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan mereka dengan cara sesuai yang Engkau kehendaki.

Gunung itupun berguncang, hingga para prajurit itu berjatuhan. Sang pemuda selamat dan dia mendatangi raja sendirian. Kemudian sang raja menyuruh beberapa prajuritnya untuk membawa anak ini di atas perahu dan dibawa ke tangah lautan. Jika sampai di tengah, ceburkan dia ke laut.

Setelah sampai di tengah laut, sang pemuda ini berdoa dengan doa yang sama,

اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

ALLAHUMMA IKFINIIHIM BIMA SYI’TA

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan mereka dengan cara sesuai yang Engkau kehendaki.

Perahu itupun terbalik dan semua tenggelam, namun Allah selamatkan pemuda ini.
(HR. Muslim 3005).

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis di atas adalah doa ketika kita dihadang orang jahat atau mendapat ancaman dari orang yang hendak bertindak jahat kepada kita.

اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

ALLAHUMMA IKFINIIHIM BIMA SYI’TA

Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan mereka dengan cara sesuai yang Engkau kehendaki.


www.konsultasisyariah.com