Doa Nabi SAW Bagi Pemimpin yang Membuat Susah Kaum Muslimin


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam lafadz yang lain dikatakan: “Ia mati dimana ketika matinya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus mendoakan pemimpin yang membuat susah kaum Muslimin. Dari Aisyah Rhadhiyallahu ‘anha,beliau berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« اللَّهُمَّ مَن ْوَلِيَ مِنْ أَمْرِأُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِن أَمْرِأُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِم ْفَارْفُقْ بِهِ »

Ya Allah, barangsiapa dari mereka yang memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu dia memberatkan/menyusahkan mereka, maka beratkan/susahkan dia; dan barangsiapa memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu dia memperlakukan mereka dengan baik, maka perlakukanlah dia dengan baik,” (HR Ahmad dan Muslim).


Dari : http://www.salam-online.com

Kekuatan Doa Seorang Wali


Ketakwaan mendatangkan pertolongan yang tak terduga dari Allah SWT.

Di tiap masa dan generasi, pastilah terdapat para wali Allah SWT. Mereka mendapat berbagai keistimewaan dan posisi yang mulia di sisi-Nya. Prestasi ini diraih, antara lain berkat proses penempaan spiritual dan pendekatan (taqarrub) yang intensif dan kontinu dalam menggapai ridha-Nya.

Manfaat yang paling nyata dari kedudukan terhormat di hadapan Tuhan tersebut, yakni para wali tidak memiliki rasa khawatir dan gelisah menghadapi persoalan apa pun. Ini tak lain karena seperti yang disebutkan sebuah hadis Qudsi, tiap penglihatan, pendengaran, dan doa para hamba yang telah memiliki kedekatan dengan Sang Khaliq, tak pernah jauh dari “sentuhan-sentuhan”-Nya.

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS Yunus [10]: 62-63).

Para wali Allah tersebut ada pula yang berasal dari generasi sahabat, salah satunya ialah Abu Mu’allaq. Tidak dijelaskan secara pasti nama lengkap sahabat Rasulullah SAW tersebut. Sejumlah buku sejarah tidak menyebutkan secara pasti identitas asli tokoh yang dikenal sebagai saudagar sukses itu. Ia cukup dikenal dengan panggilan gelar (kunyah) saja.

Cerita yang banyak beredar dan diriwayatkan secara turun-menurun, Abu Mu’allaq, merupakan pedagang sukses. Ia menjalankan perniagaan, baik dari permodalan sendiri ataupun menjalankan investasi orang lain. Bisnis yang ia jalankan telah merambah ke berbagai daerah.

Sering kali ia mesti melangsungkan perjalanan jauh, ribuan kilometer, dan menaklukkan keganasan padang pasir untuk berdagang di wilayah tertentu.
Meski demikian, kesibukan berniaga sang sahabat tidak lantas membuatnya lalai akan perintah agama. Justru, gemerlap duniawi mampu ia redam dengan gelora ketaatan dan ketakwaan. Abu Mu’allaq terkenal ahli ibadah dan berhati-hati dalam urusan dunia dan agama (wara’).   
Suatu ketika, di tengah-tengah perjalanan bisnisnya, Abu Mu’allaq melewati gurun di tengah malam nan gelap. Ia tidak ditemani siapa pun, seorang diri. Kali ini sekaligus ia tidak bersenjata. Tiba-tiba datanglah seorang penyamun yang mempersenjatai diri dengan sebilah pedang, lalu menghadang sang sahabat.

Sang perampok lantas menghunuskan pedangnya di leher Abu Mu’alaq. “Serahkan hartamu. Jika tidak, aku akan menebas lehermu,” kata perampok dengan nada tinggi dan menggertak. “Ambil saja hartaku dan biarkan aku pergi,” jawab Abu Mu’allaq. Si penyamun berkata, “Tidak bisa, harta akan aku ambil, tetapi aku akan tetap membunuhmu.”
Kondisi genting yang dihadapi Abu Mu’allaq tak membuatnya takut dan gentar. Ia tidak membalas ancaman fisik itu dengan kekerasaan.

Tetapi sebaliknya ia malah mengajukan permohonan kepada si perampok agar diizinkan shalat empat rakaat sebelum si perampok mengeksekusinya. “Izinkan saya shalat terlebih dahulu sebelum Anda membunuh saya,” pinta Abu Mu’allaq. Permintaannya pun dikabulkan.

Kemudian, Abu Mu’allaq berwudhu dan shalat empat rakaat. Di pengujung shalatnya, detik-detik akhir sujudnya, ia berdoa agar Allah melindungi keselamatan jiwanya dari si perampok. Tak selang berapa lama, datanglah pengendara kuda dengan tombak yang diletakkan lurus sejajar tepat di antara kedua telinga kuda yang ia kendarai.

Sadar akan kehadiran pengendara misterius itu, si perampok bersiap diri, tetapi apa boleh buat. Si pengendara kuda itu lebih lincah dan lihai. Perampok pun akhirnya terbunuh. Usai duel maut, pengendara itu mendekati Abu Mu’allaq. Dengan rasa penasaran dan penuh keheranan, ia bertanya kepada pengendara misterius, siapakah gerangan dirinya.

Pengendara misterius menjawab, “Berdirilah. Aku adalah malaikat dari langit keempat. Aku mendengar suara bisikan di pintu-pintu langit pascadoa pertama yang engkau panjatkan. Setelah doa keduamu, aku mendengar keributan di antara penghuni langit. Pada pamungkas doamu, aku menerima kabar bahwa itu adalah doa dari hamba yang meminta pertolongan. Lantas aku pun meminta Allah agar mengeksekusi si perampok.”

Ampuh
Seperti apakah redaksi doa yang dipanjatkan oleh Abu Mu’allaq? Berikut doanya, “Ya wadud ya wadud, ya dzal’arsyi al-majid, ya fa’alu lima turidu, as’aluka bi’izzikal ladzi la yuram, wa bimulkikalladzi la yudhamu, wa binurikal ladzi mala’a arkana ‘arsyika an takfiyani syarra hadza al-lissha, ya mughits aghitsni.”

(Wahai Maha Pengasih wahai Maha Pengasih, Wahai Pemilik ‘Arsy yang terhormat, wahai Pelaksana segala apa yang Engkau kehendaki, aku meminta kepadamu dengan kemuliaan-Mu yang tak terkurangi, lewat singgasanamu yang tak terbinasakan, dan atas cahaya-Mu yang menyinari sendi-sendi singgasana-Mu, hendaknya engkau jauhkan keburukan pencuri ini. Wahai Penolong, tolonglah hamba-Mu.)

Doa ini diucapkan sebanyak tiga kali oleh Abu Mu’allaq dan akhirnya terkabul berkat kewaliannya.


Oleh: Nashih Nashrullah
http://www.republika.co.id

Doa-Doa Nabi Musa as

Salah satu kisah panjang al-Qur’an Karim adalah kisah nabi Musa as dan Fir’aun. Para ahli ta’bir (takwil) mimpi dan ahli nujum berkata kepada Fir’aun: Akan segera lahir seorang putera yang akan menghancurkan kerajaan dan kekuasaanmu. Dengan berita menakutkan ini, Fir’aun kemudian bertindak supaya nabi Musa as tidak menapakkan kaki ke muka dunia. Akan tetapi dengan kehendak Ilahi dan meskipun keinginan Fir’aun lain, nabi Musa as membuka matanya ke dunia ini dan dengan mukjizat Ilahi beliau as tumbuh dan besar di sekitar Fir’aun dan ketika beliau as mulai menjadi pemuda kekar Allah swt menganugerahkan ilmu dan hikmah.

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.

Pada saat itu nabi Musa as berubah dan mengangkat tangan berdoa seraya berkata:
رَبِّ إِنّى‏ ظَلَمْتُ نَفْسى‏ فَاغْفِرْ لى
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.”[1]

Maka Allah swt pun mengampuni beliau as.

Nabi Musa as tetapi juga berdoa dan mengatakan:
رَبِّ بِما أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكونَ ظَهيراً لِلْمُجْرِمينَ
“Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”[2]

Maka keesokan harinya nabi Musa as di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Di lain pihak ia menghadap kepada nabi Musa as dan mengatakan: Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian!

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah dari kota ini!

Maka keluarlah nabi Musa as dari kota itu dengan berhati-hati dan waspada dan beliau as berdoa demikian:
رَبِّ نَجِّنى‏ مِنَ القَوْمِ الظَّالِمينَ
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.”[3]

Dan setelah itu tatkala nabi Musa as menghadap ke jurusan negeri Madyan, kota nabi Syu’aib as, beliau as berjalan menuju ke sana dan berdoa lagi:
عَسى‏ رَبّى‏ أَنْ يَهْدِيَنى‏ سَواءَ السَّبيلِ
“Mudah-mudahan Tuhanku memberikan hidayat kepadaku ke jalan yang benar”.[4]

Nabi Musa as sampai ke negeri Madyan. Beliau as menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan beliau as menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat ternaknya dan dalam penantian. Nabi Musa as mendekat kepada mereka dan bertanya: Kenapa kalian berdiri di sini? Kedua wanita itu menjawab: Kami tidak dapat meminumkan ternak kami, sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan ternaknya.

Maka nabi Musa as karena tugas Ilahi dan semacam persahabatan menuju ke sumur, menimba air dan memberi minum ternak itu. Mereka berdua lalu pergi dan lebih cepat sampai di rumah dari hari-hari biasa.

Nabi Musa as yang merasa asing di negeri Madyan dan tidak dapat pergi ke mana-mana menuju ke bawah pohon yang rindang untuk berteduh untuk menghilangkan rasa lelah dan karena tidak membawa bekal dan makanan beliau as mengangkat tangan berdoa kepada Allah swt:
رَبِّ إِنّى‏ لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقيرٌ
“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”[5]

Doa nabi Musa as terkabulkan. Puteri-puteri nabi Syu’aib yang pulang ke rumah lebih cepat dari hari-hari biasanya menceritakan kepada sang ayah kejadian seorang pemuda tak dikenal yang menolong mereka.

Nabi Syu’aib mengirim salah seorang di antara mereka berdua untuk mencari dan membawa nabi Musa as ke hadapan beliau. Nabi Musa as datang ke rumah nabi Syu’aib. Mereka menyambut dan menjamu beliau as dan karena mereka melihat kemampuan, kejujuran dan amanat beliau as mereka menerimanya dengan hangat. Maka nabi Musa as menjadi menantu nabi Syu’aib, beristeri dan hidup berkeluarga.

Walaupun di dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa nabi Musa as ketika berdoa pada waktu itu membutuhkan sepotong roti, akan tetapi doa ini tidak khusus untuk mengharapkan roti dan makanan, namun untuk seluruh kebutuhan. Dalilnya adalah setelah doa ini nabi Musa as memiliki segala sesuatu.

Nabi Musa as selama beberapa waktu tinggal di negeri Madyan sesuai dengan perjanjian dengan nabi Syu’aib dan setelah itu nabi Musa as dengan membawa keluarga, gembalaan dan harta bendanya menuju ke negeri Mesir hingga sampai di Thur Sina. Di sana memancarlah seberkas cahaya dari kejauhan. Beliau as menuju ke arahnya untuk mengambilnya sebagai penghangat keluarga. Cahaya itu adalah manifestasi Allah swt yang menjelma dalam pohon. Di sanalah terjadi kejadian terbesar dalam kehidupan nabi Musa as yaitu risalah beliau as. Nabi Musa as diangkat menjadi nabi dan dianugerahkan pula kepadanya mukjizat sebagai bukti kebenaran klaim beliau as.

Permulaan tugas dan risalah beliau as dideklarasikan untuk pergi ke istana Fir’aun, memberikan peringatan dan mengajaknya menuju kepada Allah swt.

Pada saat itu ketika nabi Musa as mendapati tugas sebagai sebuah hal yang berat menghadap kepada Allah swt dan berdoa:
رَبِّ اشْرَحْ لِى‏ صَدْرِى‏ * وَيَسِّرْ لِى‏ أَمْرِى * وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسانِى * يَفْقَهُوا قَوْلِى * وَاجْعَلْ لِى‏ وَزِيراً مِنْ أَهْلِى * هرُونَ أَخِى * اُشْدُدْ بِهِ أَزْرِى * وَأَشْرِكْهُ فِى‏ أَمْرِى * كَىْ نُسَبِّحَكَ كَثِيراً  *وَنَذكُرَكَ كَثِيراً  * إِنَّكَ كُنْتَ بِنا بَصِيراً
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.”[6]

Allah swt memberikan jawaban: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”[7]

Setelah itu Allah swt mengajarkan metode menghadapi Fir’aun kepada nabi Musa dan nabi Harun sebagai berikut: “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”[8]
Nabi Musa dan nabi Harun as mengatakan:
رَبَّنا إِنَّنا نَخافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنا اَوْ أَنْ يَطْغى
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.”[9]

Allah swt memberikan jawaban: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”[10]

[1] QS. Al-Qashash [28]: 16.
[2] QS. Al-Qashash [28]: 17.
[3] QS. Al-Qashash [28]: 21.
[4] QS. Al-Qashash [28]: 22.
[5] QS. Al-Qashash [28]: 24.
[6] QS. Thaha [20]: 25 – 35.
[7] QS. Thaha [20]: 36.
[8] QS. Thaha [20]: 43 – 44.
[9] QS. Thaha [20]: 45.
[10] QS. Thaha [20]: 46

Sumber: http://quran.al-shia.org


Apakah Doa Orang Sakit Mustajab?

Dinyatakan dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,
Apabila kamu menjenguk orang sakit, minta dia untuk mendoakanmu. Karena doanya seperti doa Malaikat.”

Status Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dalam Amal Yaum wa lailah (hlm. 207) dan Ibnu Majah no. 1441 dari jalur Katsir bin Hisyam dariJa’far bin Burqan, dari Maimun bin Mihran, dari Umar.

Dalam as-Silsilah ad-Dhaifah ditegaskan bahwa jalur sanad hadis ini lemah sekali (dhaif jiddan), karena dua alasan:

Pertama, Terputus antara Maimun bin Mihran dengan Umar. Karena Maimun tidak pernah mendengar dari Umar.

Kedua, bahwa antara perawi Katsir bin Hisyam dengan Ja’far bin Burqan ada satu perawi yang tidak disebutkan. Perawi itu adalah Isa bin Ibrahim al-Hasyimi. Sehingga jalur sanad yang lengkap:

Dari Katsir bin Hisyam dari Isa bin Ibrahim dari Ja’far bin Burqan.

Keberadaan Isa bin Ibrahim menjadi cacat sanad hadis ini. Karena para ulama mendhaifkannya. Imam Bukhari dan an-Nasai mengatakan, ‘Munkarul Hadis.’ Sementara Abu Hatim mengatakan, ‘Matrukul Hadis.’ Karena alasan ini, Ibnul Jauzi dalam kitab al-Ilal al-Mutanahiyah menilai hadis ini dengan pernyataan: ’La yasih,’ tidak shahih.

Kesimpulannya, hadis ini adalah hadis yang lemah sekali, sehingga tidak bisa dijadikan acuan dalil.

Doa Orang Sakit itu Mustajab

Diantara doa yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan dari seseorang ketika dalam kondisi lemah, kepepet, terdesak, yang sangat membutuhkan pertolongan dari Allah. Karena itu, doa mereka lebih mustajab dibandingkan doa mereka yang sehat dan dalam keadaan longgor. Allah berfirman,

“Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. An-Naml: 62)

Dan kita semua tahu, orang sakit termasuk diantara mereka. Ibnu Allan menjelaskan mengapa doa orang sakit lebih mustajab,

Karena orang sakit termasuk orang yang terdesak. Dan doanya lebih cepat diijabahi dari pada yang lainnya. (al-Futuhat ar-Rabbaniyah, Syarh al-Adzkar an-Nawawiyah, 4/92).
Wallahu a’lam.



Doa Malaikat Pemikul Arsy


Mereka malaikat yang sangat dekat dengan Allah. Malaikat yang selalu memuji Allah. Kita bisa bayangkan, tentu doa dan permohonannya sangat berpeluang dikabulkan Allah.
Sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat berharap mendapatkan kebaikan dari doa malaikat ini.

Di surat Ghafir, Allah menceritakan bahwa malaikat ini mendoakan beberapa hamba Allah,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ ( ) رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ( ) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ( ) Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, ( ) dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir: 7 – 9)

Kita bisa perhatikan, ada beberapa doa yang dipanjatkan para malaikat itu,
  1. Memintakan ampunan bagi orang yang beriman, rajin bertaubat, dan mengikuti jalan Allah. Mereka berdoa, ”Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau..”
  2. Memohon penjagaan agar manusia dengan kriteria di atas, tidak mendapat siksa neraka. Mereka berdoa, ”peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.”
  3. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dimasukkan ke dalam surga yang kekal.
  4. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dikumpulkan bersama orang tuanya, istrinya, dan keturunannya di dalam surga.
  5. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas dilindungi dari balasan atas keburukan yang pernah dilakukan..


Doa ini hanya untuk:
  1. Orang yang beriman (mukmin)
  2. Hanya mukmin yang bertaubat
  3. Mukmin yang selalu kembali ke jalan kebenaran, bukan pencari pembenaran untuk kesesatannya.


Doa Mohon Petunjuk Yang Hak

Mari kita selalu membaca doa ini Semoga Allah Memberi pertunjuk pada kita




“Allahumma arinal haqqa, haqqaa, warzuqnattiba’ah, wa arinal baathila baathila, warzuqnajtinabah”

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang haq (benar) itu sebagai haq (benar), dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya (memperjuangkannya), dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya (menghapuskannya).

Doa Minta Ilmu Bermanfaat, Rezki Yang Halal, Amal Yang Diterima

Doa berikut adalah termasuk doa yang selalu Nabi Muhammad baca ketika pagi hari. Terdapat dalam Musnad Ahmad dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Ummu Salamah ra, bahwa Rasullah SAW ketika selesai salam dalam sholat subuh beliau membaca :


“Allahumma innii asaluka ‘ilman naafi’a, warizqon thoiyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala”

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang halal dan baik serta amalan yang diterima oleh Mu”

Betapa indahnya bagi seseorang yang mengawali harinya dengan memohon 3 hal ini setiap hari. Tiga hal penting dan mulia. Tiga hal prioritas yaitu ilmu yang bermanfaat, rezki yang halal dan amal yang diterima. Semua aktifitas hamba akan bermuara kepada ketika hal tersebut. Jadi tidak heran Nabi mengajarkan kepada kita doa di atas untuk di amalkan setiap hari.


DOA KESELAMATAN

Berikut 3 Jenis Doa Keselamatan yang sering dipanjatkan oleh para ulama. mari kita senantiasa panjatkan Doa-doa ini minimal setiap selesai sholat fardhu.  



"Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fiddiin, wa'aafiyatan filjasadi, waziyaadatan fil'ilmi, wabarakatan firrizqi wataubatan qablal mauti, warahmatan 'indal mauti wamaghfiratam ba'dal mauut, allaahumma hawwin 'alaynaa fii sakaraatil mauti wannajaata minannaari wal'af-wa 'in-dal hisaab." 

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan didalam agama, sehat jasmani, tambah ilmu dan keberkahan rizki, dapat bertobat sebelum mati, memperoleh rahmat ketika mati dan memperoleh ampunan setelah mati. YA Allah, ringankanlah kami ketika sakaratul maut, jauh dari neraka dan memperoleh ampunan pada hari hisab. 


“Rabbana La tuzigh quloobana ba'da iz hadaitana wahablana mil'ladunka rahmah, Innaka anntal wah'haab.”

“Ya Tuhan kami, janganlah engkau condongkan kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kmi rahmat dari sisi Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi” (QS 3:8)


Rabbanaa Aatina fid'duniya hasanatan wafil aakhirati hasanatan waqhina azaaban'naar. “
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat,  dan lindungilah kami dari azab neraka” (QS 2:201)


3 Doa Perlindungan Dari Api Neraka

Tiga bacaan berikut bisa mmenjadikan diri kita terhindar dari api neraka. 



http://sitisifir10.files.wordpress.com/


“ALLAHUMMA ANTA RABBI, LAA ILAAHA ILLA ANTA KHOLAQTANI WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WAWA’DIKA MASTATHO’TU, A’UDZUBIKA MIN SYARRI MAA SONA’TU , ABU U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA, WA ABU-U BIDZAN BII FAGHFIRLII FAI-NAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA”.
Terjemahan:

Ya Allah, Engkau adalah Rabbku,
Tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Yang telah menciptakan daku,
dan daku adalah hambaMu, dalam ikatan perjanjian dengan Mu.
Dan daku berlindung kepada Mu dari kejahatan diriku.
Dan daku akui nikmat Mu ke atas ku.
Dan daku akui dosa-dosaku pada Mu, dan memohon ampun pada Mu.
Tidak ada yang dapat mengampuni (dosa-dosa) ku melainkan Engkau

Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa yang membaca istighfar ini dengan penuh yakin pada siang hari dan mati sebelum malam, dia adalah ahli jannah. Dan siapa membaca dengan penuh yakin pada malam hari dan mati sebelum siang, juga adalah ahli jannah"

B.AYAT KURSI


Dari Abu Umamah, tentang keutamaan membacanya setelah shalat fardu, dia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 “Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap setelah selesai fardhu, tidak ada yang dapat menghalanginya masuk surga kecuali dia meninggal dunia.”

(Diriwayatkan oleh Nasai di kitab Al-Yaum Wal Lailah dari Hasan bin  Basyar. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya dari hadits Muhammad bin Humair beliau dari Himsi, dia termasuk perawi Bukhari juga. Sanadnya sesuai syarat Bukhari)


C. DOA PERLINDUNGAN DARI API NERAKA


http://1.bp.blogspot.com

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
”Siapa yang meminta surga 3 kali, maka surga akan berkata: ’Ya Allah, masukkanlah dia ke dalam surga.’ Dan siapa yang memohon perlindungan dari neraka 3 kali, maka neraka akan berkata: ’Ya Allah, lindungilah dia dari neraka.” (HR. Ahmad 12585, Nasai 5521, Turmudzi 2572 dan yang lainnya. Hadis ini dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth dan dinilai shahih oleh al-Albani).

Jika kita perhatikan, hadis di atas bersifat umum, artinya,
  1. Tidak ada teks doa khusus, sehingga anda bisa meminta surga dengan kalimat permohonan surga apapun. Bisa juga dengan bahasa yang kita pahami: Ya Allah, aku memohon surga, atau Ya Allah, lindungilah aku dari neraka.
  2. Tidak ada batasan waktu dan tempat, sehingga kita bisa membacanya kapanpun dan dimanapun.
  3. Disebutkan batasan angka, yaitu 3 kali. Artinya untuk mendapatkan keutamaan itu, kita baca minimal sebanyak 3 kali, dan maksimal tanpa hitungan.


Lalu perhatikan hadits berikut:

Apabila kamu selesai shalat subuh, becalah doa berikut sebelum kamu berbicara dengan orang lain: ’Allahumma aajirnii minan naar’ 7 kali. Jika pada hari itu kamu mati maka Allah akan menetapkan bahwa kamu jauh dari neraka. Jika kamu selesai shalat maghrib, ucapkanlah doa ini sebelum kamu berbicara dengan orang lain: ’Allahumma aajirnii minan naar’ 7 kali. Jika malam itu kamu mati, maka Allah tetapkan bahwa kamu jauh dari neraka.”

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya no. 18054, Abu Daud no. 5079, dan Ibn Hibban 5/367, dari jalur al-Harits bin Muslim, dari bapaknya Muslim bin harits at-Tamimi secara marfu’.

Syaikh Syuaib al-Arnauth mengatakan,
Sanad hadis ini dhaif, Muslim bin Harits dinilai majhul (perawi tak dikenal) oleh ad-Daruquthni, sementara penilaian dia sebagai tsiqah (perawi terpercaya) tidak dianggap dari selain Ibnu hibban. Ulama berbeda pendapat tentang namanya dan nama bapaknya. (Ta’liq Musnad Ahmad, 29/593).

Hadis ini juga dinilai lemah dalam kitab as-Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah (kumpulan hadis dhaif), no. 1624.

Wallahu a'lam 


Zikir Yang Cerdas – 2


Zikir yang cerdas dimaksudkan bahwa dengan upaya yang sedikit kita akan mendapatkan manfaat atau ganjaran yang besar.

Tahukah Anda bahwa dengan umur kita yang singkat dan kebanyakan orang yang sangat sibuk dengan urusan dunia dan akhirat memerlukan strategi beramal yang cerdas. Salah satu yang penulis maksudkan di tulisan ini adalah menamatkan Al-Quran hanya dalam waktu kurang dari semenit.

Nabi SAW bersabda; “Saya akan membacakan kepada kalian (surat yg menyamai) sepertiga Al Qur`an. Maka beliau pun membaca: QUL HUWALLAHU AHAD. Beliau membacanya hingga selesai. (HR. Muslim No.1346).

Ya itulah surat Al-Ikhlas. Perbanyak lah membacanya. Disetiap selesai sholat fardhu atau kapan saja. Jika hanya sempat membacanya 3 x setiap selesai sholat fardhu, Anda sudah menamatkan Al-Quran 5 kali dalam sehari. Lalu coba Anda pikirkan berapa kali Anda akan menamatkannya dalam sebulan, setahun? Sungguh beruntung orang-orang yang mengetahui dan mau mengamalkannya.


Qul huwa allaahu ahadun. Allaahusshamadu. Lam yalid walam yuuladu. Walam yakun lahu kufuwan ahadun.

“Katakanlah Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”


Doa Nabi Sulaiman as.

Nabi Sulaiman dan nabi Daud termasuk nabi-nabi Ilahi yang Allah swt sebutkan dengan baik di dalam al-Qur’an. Karena nabi Sulaiman as memiliki ketertarikan luar biasa kepada kuda, tentara beliau mengatur pertandingan balapan kuda untuk mempersiapkan diri berperang menghadapi musuh dan nabi Sulaiman as menyaksikan pertunjukan tersebut. Pertandingan berjalan lama sementara waktu utama shalat telah berlalu. Allah swt yang hendak menguji nabi Sulaiman as memaparkan sebuah jenazah di hadapan beliau as. Nabi Sulaiman as menghadapkan wajah ke hadirat Ilahi dan mengangkat tangan berdoa dan berkata:

رَبِّ اغْفِرْ لى‏ وَهَبْ لى‏ مُلْكاً لا يَنْبَغى‏ لأَحَدٍ مِنْ بَعْدى‏ إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad [38]: 35.)


Allah swt pun mewujudkan keinginan beliau dan menganugerahkan sebuah kerajaan tiada banding kepada beliau as. Setelah ribuan tahun berlalu kisah kerajaan nabi Sulaiman masih tetap dibicarakan dan kebesaran dan keagungannya selalu diingat.

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam adalah seorang rasul yang diutus kepada Bani Israil. Beliau adalah putra dari Nabi Daud ‘alaihis salam. Sang ayah adalah rasul sekaligus raja Bani Israil. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam mewarisi tahta kerajaan dari sang ayah.

Allah Ta’ala mengaruniakan ilmu, hikmah, kenabian dan kerajaan kepada ayah dan putranya. Allah Ta’ala mengisahkan doa tanda syukur Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihimas salam atas nikmat-nikmat tersebut, dengan firman-Nya:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami [dengan berbagai karunia-Nya] dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”(QS. An-Naml [27]: 15)

Allah Ta’ala juga mengaruniakan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kemampuan memahami bahasa binatang. Suatu ketika Nabi Sulaiman ‘alaihis salam membawa pasukannya berjalan melewati sebuah lembah yang menjadi sarang bangsa semut. Melihat kehadiran pasukan manusia yang akan berjalan melewati lembah tersebut, pemimpin semut pun memberikan perintah kepada anak buahnya: “Wahai bangsa semut, masuklah kalian ke sarang-sarang kalian! Jangan sampai Nabi Sulaiman dan pasukannya menginjak kalian tanpa mereka sadari.”

Mendengar ucapan pemimpin bangsa semut tersebut, Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tersenyum. Beliau lantas berdoa kepada Allah Ta’ala sebagai wujud atas rasa syukur beliau. Beliau berdoa:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”(QS. An-Naml [27]: 19)

Semakin tinggi keimanan seseorang, maka rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala juga semakin tinggi. Kita semua senantiasa mendapatkan curahan nikmat Allah Ta’ala tanpa henti, tanpa kita sadari, dan tanpa bisa kita hitung-hitung.

Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk senantiasa pandai bersyukur kepada Allah Ta’ala. Kita semua tentu ingin menjadi orang yang senantiasa bisa beramal shalih dan masuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang shalih. Maka alangkah baiknya apabila doa syukur Nabi Sulaiman ‘alaihis salam ini senantiasa menghiasi bibir dan hati kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: arrahmah.com

Doa dan Zikir Sebleum Tidur

Membaca Doa dan Zikir ketika akan tirur adalah merupakan kebiasaan NAbi SAW. Diantara doa dan zikir yang biasa dibaca ketika tirud adalah :

1. Bersuci dan membaca doa
Dari al-Bara' bin ‘Azib Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: "Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku: ‘Apabila engkau hendak tidur, berwudhu lah sebagaimana wudhu mu ketika hendak shalat, kemudian berbaringlah di atas bagian tubuh yang kanan, lalu bacalah:


`Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.`" (Nabi Bersabda: "Apabila engkau mati pada malam itu, maka engkau mati diatas fitrah (Islam). Dan jadikanlah kalimat (dzikir) itu sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan." HR. al-Bukhari no. 247, 6311, 6313, 6315 dan 7488, Muslim no. 2710, Abu Dawud no. 5046, at-Tirmidzi no. 3394, dan Ahmad IV/290.)

2. Membaca Doa 
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca:


“Allahumma qiini ‘adzabaka yauma tab’atsu i’badaka” 

“Ya Allah, lindungilah diriku dari siksaan-Mu pada hari ketika Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (HR. al-Bukhari dalam Shahiih al-Adabil Mufrad no. 921 dari al-Bara’ Radhiallahu ‘anhu, at-Tirmidzi no. 3398 dari Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu, dan Abu Dawud no. 5045 dari Hafshah Radhiallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2754)

Dalam Hadits yang lain Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca:


“Bismikallahumma amuut wa ahyaa” 

“Dengan Nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup.” (HR. al-Bukhari no. 6312 dan 6324 dari Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu, dan Muslim no. 2711 dari al-Bara’ Radhiallahu ‘anhu)

3. Membaca Ayat Kursi.
Dalam Shahih Bukhari secara muallaq, no. 2311, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata:

“Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam menugaskan diriku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian ada yang datang dan mengambil makanan. Selanjutnya disebutkan lanjutan hadits …. Dibagian akhir disebutkan: “Jika engkau hendak tidur, maka bacalah ayat kursi. Karena jika dia senantiasa bersama engkau, maka Allah akan menjagamu, dan syetan tidak akan mendekatimu." Maka Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Dia benar kepadamu, tapi dia adalah pendusta. Dia adalah setan."

4. Membaca Dua ayat akhir surat Al-Baqarah.
Dai Abu Mas’ud Al-Anshari radhillah anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 50009 dan Muslim, no.  2714. Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab Al-Wabil As-Shayyib, no. 132 mengatakan, “Maksudnya adalah dilindungi dari keburukan yang akan membahayakannya)

Dari Ali radhiallahu anhu berkata, “Aku menilai bahwa seseorang tidak dikatakan pandai, apabila dia tertidur sebelum membaca tiga ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah,”
An-Nawawi mencantumkannya dalam kitab Al-Adzkar, 220 dari riwayat Abu Bakar bin Abu Daud kemudian beliau mengomentari, “Shaheh dengan syarat Bukari dan Muslim."

5. Membaca Surat Al-Kafirun.
Dari Naufal Al-Asyja’i radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku:

“Bacalah Qul Yaayyuhal Kafirun (Surat Al-Kafirun) kemudian tidurlah pada akhir (ayatnya), karena ia dapat melepaskan dari kesyirikan.” (HR. Abu Daud, 5055. Tirmizi, 3400 dihasankan oleh Ibnu Hajar di kitab Nataijul Afkar, 3/61 dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud.

6. Membaca Surat Al-Ikhlas dan Dua surat Muawidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nass).
“Dari Aisyah radhiallahu’anha, 'Sesunguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya ketika akan tidur setiap malam, menyatukan kedua telapak tanganya kemudian meniup keduanya dan membaca (Qul huwallahu’ahad) dan (Qul a’udzubi rabbil falaq) dan (Qul a’udzubirobbin nass) kemudian mengusap tubuh dengan keduanya sedapat mungkin. Dimulai dari kepala dan wajahnya dan bagian depan tubuhnya. Hal itu dilakukan tiga kali.” (HR. Bukhari, no. 5017)
Dari Ibrohim An-Nakho’i, dia mengatakan, “Mereka menganjurkan untuk membaca tiga surat pada setiap malam tiga kali yaitu (Qul huwallahu ahad) dan dua Muawwidzatain." An-Nawawi mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, sanadnya shahih dengan syarat Muslim.

7. Membaca zikir tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali atau 34 kali ketika hendak tidur. 
Sebagaimana sabda beliau kepada Ali bin Abi Thalib dan istrinya ketika mereka hendak tidur,“Maka bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh tiga kali”dan dalam riwayat lain “takbirlah tiga puluh empat kali” (HR Bukhari).


Wallahua’lam .