Kenapa Sudah Rajin Berdzikir Namun Tidak Berpengaruh?

Kalau kita melihat beberapa dzikir punya keutamaan yang besar. Ada dzikir yang manfaatnya bisa melindungi kita dari berbagai gangguan, penyakit, dan mendapatkan manfaat ukhrowi, juga duniawi. Namun kenapa kita biasa merutinkan misalkan dzikir pagi petang, namun tak juga berpengaruh pada diri kita? Apa ada yang salah dari dzikir tersebut?

Ada keterangan dari guru penulis, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifi hafizhahullah berikut ini.

Ada pertanyaan: Apa sebab seorang muslim bisa terkena berbagai musibah padahal ia telah merutinkan berbagai macam dzikir? Ia sudah merutinkan dzikir namun tetap saja ia terkena suatu musibah atau terkena sesuatu yang ia tidak sukai.

Jawab Syaikh Ath Thorifi, “Dzikir punya keutamaan (fadhilah) beragam. Bahkan sampai-sampai Al Hafizh Ibnul Qayyim menyebutkan sampai 64 keutamaan berdzikir dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib.

Namun faedah atau keutamaan dzikir tersebut ada yang mendapatkannya, ada pula yang tidak mendapatkannya. Ini semua tergantung bagaimanakah cara ia membaca dzikir tersebut dan tergantung pada penghadiran hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bacaan sayyidul istighfar menyatakan, “Siapa yang membacanya dalam keadaan meyakininya …”

Berarti yang membaca tidak dengan penuh keyakinan, hanya di lisan saja, atau tak memahami maknanya, maka ia tidak mungkin mendapatkan seluruh faedah dari dzikir yang telah disebutkan. Karenanya, siapa yang berdzikir dengan cara yang benar dan ia berdzikir secara lahir dan batin, maka ia pasti akan mendapatkan apa yang dijanjikan.” (Adzkarush Shobaah wal Masaa’ Riwayatan wa Dirayatan, hal. 108)

Yang dimaksud keutamaan bacaan sayyidul istighfar adalah dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Barangsiapa mengucapkan dzikir sayyidul istighfar di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum shubuh, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 6306).

Jika dalam dzikir demikian adanya, maka dalam do’a pun demikian. Do’a yang dikabulkan hanyalah dari hati yang tidak lalai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Berdo’alah pada Allah sedangkan kalian dalam keadaan yakin terkabul. Ketahuilah bahwasanya Allah tidaklah mengabulkan do’a dari hati yang lalai dan bersenda gurau.” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
http://rumaysho.com


Bentuk Doa yang Termasuk Bid’ah

Kaitannya dengan pembahasan tawassul, ada yang mesti dipahami yaitu tentang do’a-do’a yang dihukumi bid’ah. Tingkatannya sebagai berikut sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyah:

1- Berdo’a pada selain Allah, di mana yang ditujukan do’a itu mati atau ghaib (tidak hadir), baik yang diminta adalah para Nabi, orang shalih atau selain mereka. Misalnya ada yang berdo’a: “Wahai sayyid fulan, selamatkanlah aku” atau “Wahai pak Kyai, aku meminta perlindungan pada-Mu” atau “Wahai orang shalih, aku meminta pertolongan padamu” atau “Wahai fulan, aku beristighotsah denganmu”. Yang lebih dari itu jika ia meminta “Wahai wali, ampunilah aku dan terimalah taubatku”. Seperti ini dilakukan oleh orang-orang musyrik yang tak punya dasar ilmu.

Yang lebih parah dari itu jika sampai sujud pada kubur wali, shalat menghadap kuburnya, bahkan menganggap shalat menghadap kubur tersebut lebih utama daripada shalat menghadap kiblat. Sampai-sampai disebut adanya keyakinnan bahwa shalat menghadap kubur adalah menghadap kiblat yang khusus, sedangkan shalat menghadap Ka’bah adalah kiblatnya orang-orang awam.

Lebih parah dari itu pula ada yang sampai menganggap bersafar ke kubur wali sejenis haji sampai-sampai disebut bahwa bersafar beberapa kali ke kubur tersebut sudah senilai dengan haji. Bahkan kalangan yang ekstrim (kalangan ghullat) dari mereka menyatakan bahwa berziarah sekali ke kubur wali fulan lebih utama dari beberapa kali berhaji.
Semua yang dicontohkan dalam bentuk pertama ini adalah kesyirikan, walau kebanyakan orang melakukan sebagian ritual di atas.

2- Meminta pada para Nabi atau orang shalih yang telah tiada (mayit) atau yang tidak hadir (ghaib) dengan berkata, “Berdo’alah pada Allah untukku” atau “Berdo’alah pada Rabbmu untuk kami”. Perbuatan ini tidak diragukan oleh orang yang paham bahwa hal itu tidak dibolehkan. Amalan tersebut termasuk bid’ah yang tak pernah diajarkan oleh generasi terdahulu dari umat ini.

Intinya, tidak boleh meminta pada mayit seperti itu untuk menyampaikan do’a kita pada Allah atau mengadu tentang kesusahan dunia dan akhirat pada Allah yang disampaikan lewat mayit, walau ketika ia hidup dibolehkan. Saat orang shalih itu hidup, kita boleh meminta padanya untuk berdo’a pada Allah untuk kebaikan kita. Itu saat ia hidup karena seperti itu tidak mengantarkan pada kesyirikan. Namun saat ia telah tiada, berubah sebagai perantara pada kesyirikan. Ketika dulu hidup, orang shalih itu adalah seorang mukallaf (dibebani syari’at) dan bisa menjawab permintaan orang yang meminta. Kalau ia berdo’a pada Allah untuk kebaikan yang meminta, maka akan berpahala. Sedangkan ketika sudah tiada, maka ia bukan seorang mukallaf seperti tadi.

3- Meminta dengan hak atau kedudukan (jaah) orang shalih, termasuk yang dilarang dan sudah disebutkan pendapat dari Abu Hanifah, Abu Yusuf dan lainnya tentang masalah ini. Perbuatan semacam ini tidaklah masyhur di kalangan para sahabat. Buktinya, para sahabat tidak berdo’a dengan kedudukan (jaah) Nabinya yang mulia, namun kala sulit mereka bertawassul dengan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib yang masih hidup. (Diringkas dari Qo’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah, hal. 226-231)


Sumber: rumaysho.com

Rahasia Kekuatan Doa Sebagai Penyembuh

Umat Islam terbiasa memanjatkan doa dalam setiap situasi. Misalnya saja, mendoakan kemerdekaan bangsa Palestina, atau yang lebih 'sapu jagat' yakni meminta keselamatan dunia dan akhirat.

Lantas, apa rahasia dibalik kekuatan doa?Untuk mempermudah penjelasannya, konteks yang akan dikedepankan adalah kekuatan doa sebagai penyembuh. Dalam penelitian modern menunjukan doa memiliki kemampuan penyembuh melebihi kekuatan obat-obatan yang dikonsumsi untuk membawa kesembuhan.

Dalam Alquran dan Hadist disebutkan ada dua macam doa untuk kesembuhan. Pertama, doa memohon kesembuhan. Dalam Surat Al Hud ayat 153 disebutkan 'Hai orang yang beriman. Mintalah bantuan dengan ketekunan dan doa, karena Allah beserta orang yang sabar. Lalu Allah mengatakan dalam firmannya di Surat Ghafir, "Dan Tuhanmu mengatakan, Berdoalah kepada-Ku, dan Aku akan mendengarkannya".

Kedua, doa sebagai usaha menyembuhkan atau Rukyah. Usaha ini dilakukan dengan membaca ayat tertentu. Ini dilakukan, dengan tetap mengedepankan permohonan izin kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan.

Dalam teladannya, seperti disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan Bukhairi, Aisyah mengatakan, "Setiap sahabat jatuh sakit, Rasulullah Muhammad SAW menggosokan tangan kanannya kemudian berdoa "Ya Allah, berikanlah ia kesehatan, sembuhkan dia, Engkaulah Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan kecuali datangnya dari Engkau".

Dalam upaya ini, Surat Al-Fatiha merupakan bacaan yang paling umum dalam Rukyah. Para ulama merekomendasikan surat ini dengan alasan dan pertimbangan bila seorang Muslim tidak memiliki ilmu untuk mengetahui doa mana yang benar untuk menyemnbuhkan.

Meski Rukyah belum diakui sebagaimana kedokteran umum, tapi sudah dipelajari beberapa universitas di Barat. Dalam bukunya, 'Reinventing Medicine', Larry Dossey mengatakan para peneliti telah mencari tahu kekuatan doa sebagai penyembuh. Dari temuan peneliti, doa merupakan kekuatan tanpa medium seperti kabel telepon atau gelombang satelit.

Artinya, doa tidak terpengaruh ruang dan waktu namun dilakukan secara langsung. Peneliti lalu menyebut fenomena ini sebagai doa atau penyembuh lokal.

Jadi, bagaimana doa dapat menyembuhkan seseorang?, Henri Bergson, peneliti medis terkemuka menyimpulkan, pikiran tidak memerlukan medium untuk pergi kemanapun. Mekanismenya mirip seperti radio dan gelombang radio. Pada dasarnya, radio tidak menghasilkan gelombang namun hanya mendeteksi, mengirimkan, dan menyortir. Bedanya, Allah SWT punya karunia yang luar biasa kepada setiap mahluknya.

Larry Dossey, MD dalam bukunya "An internis" melihat usaha umat Islam untuk sembuh membuat masyarakat Barat perlu menirunya. Yakni menyisipkan doa ketika menangani penyakit.


Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Doa Sebelum Minum Air Zam-Zam



Dari Ibnu Abbas Rasulullah bersabda, “Air Zamzam adalah untuk apa saja ia di­niatkan meminumnya. Jika engkau me­minumnya untuk penawar, niscaya Allah akan menyembuhkan engkau. Jika eng­kau meminumnya agar merasa ke­nyang, Allah akan mengenyangkanmu. Jika engkau meminumnya untuk meng­hilangkan dahaga, Allah akan menghi­langkannya. Ia adalah air yang digali oleh Jibril AS dan air minum yang disedia­kan Allah untuk Ismail.”

Jadi dibolehkan untuk berdoa apa saja sebelum meminum air zam-zam, Namun terdapat doa yang biasa dibaca dikalangan sahabat, Dari Ikrimah, ia berkata “Ibnu Abbas apabila minum air zam-zam beliau berdoa ‘Allahumma inni as-aluka ‘ilmannaafian wa rizqawwaasi’an wa syifaa-an minkulli daa-in’ artinya, Ya Allah ya Tuhan kami sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeqi yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit” (HR. Ad Daraquthni).


Sumber: http://panduan-haji.blogspot.com

Jangan Pernah Berdoa Minta Azab Disegerakan

Cobaan tidak pernah lepas pada diri setiap manusia tatkala hidup didunia ini. Allah sudah menjamin hal tersebut. Susah, senang, kaya, tidak memiliki sesuatu adalah diantara manifestasi dari cobaan.

Seberat apapun cobaan yang diterima, bersabarlah, itu yang lebih baik. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah,  apalagi marah kepada Allah karena doa atau cobaan yang diterima tak kunjung berakhir.

Ada kisah dizaman Nabi, seorang laki-laki yang minta disegerakan azab didunia.

Diriwayatkan dari Anas ra, Rasulullah SAW menziarahi seorang laki-laki islam yang sakit parah, tak berdaya untuk bergerak seolah-olah seperti seekor anak burung yang baru menetas. Rasulullah bertanya kepada orang tersebut,’apakah kamu pernah berdo’a kepada Allah agar diberi sesuatu?. Laki-laki itu menjawab, “Ya, aku berdo’a  ‘Ya Allah, jika Engkau ingin menyiksaku di akhirat kelak, tolonglah laksanakan siksa tersebut di dunia ini.’” Mendengar kata-kata tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Maha Suci Allah, kamu tidak akan mampu memikulnya. Bukankah lebih baik kamu berdoa:”Rabbana Aatina fiddunya hasanah, wafil aakhiratihasanah waqiina azaa bannar” “ Anas berkata” lantas Nabi berdoa kepada Allah SWT untuk laki-laki tersebut lalu laki-laki tersebut sembuh dari penyakitnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Saudara muslim sekalian, jangan pernah mengira manusia sanggup untuk menerima azab Allah, apalagi dunia. Jadi betapapun beratnya cobaan yang menimpa, sekali lagi bersabarlah, Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambanya melebihi kemampuan si hamba.




Jangan Barputus Asa Dari Rahmat Allah


Keimanan seorang mukmin akan tanpak jelas tatkala ia ditimpa bencana dan cobaan. Ia rajin berdoa, namun terkadang tidak ada jawaban. Hal itu tak pernah membuatnya putus harapan, meskipun alasan untuk itu sangat kuat. Hal itu karena ia meyakini bahwa Yang Maha Benar lebih mengetahui maslahat bagi hamba-Nya.

Tertundanya jawaban itu dimaksudkan agar sang hamba bersabar dan semakin kuat imannya. Allah tidak akan berlaku demikian kecuali Dia menginginkan hati sang hamba pasrah dan ingin melihat sampai sejauh mana kesabarannya. Bisa juga Dia bermaksud agar hamba lebih banyak berlindung dan berdoa kepada-Nya.

Adapun orang yang menginginkan jawaban atas doanya dengan cepat dan sangat gelisah jika jawaban itu tidak segera datang, adalah tanda akan lemahnya iman. Ia menganggap dirinya berhak mendapatkan jawaban dari Allah, bahkan ia seakan-akan menuntut jawaban atas doa-doa yang ia panjatkan.

Tidakkah Anda mendengar kisah nabi Ya’kub yang dicoba selama delapan puluh tahun namun harapannya kepada Allah tak pernah bergeser? Saat anaknya, Benyamin, tak ada di sampingnya pun, sebagaimana yang terjadi pada anaknya, Yusuf, harapannya kepada Allah tetap kokoh. Dia berkata, “mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku” (QS Yusuf :83). Makna itu diperkuat dengan firman Allah SWT, Apakah engkau mengira bahwa engkau akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum engkau? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya, “ Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat(QS Albaqoroh:214).

Perlu diperhatikan bahwa perkataan itu tidak akan muncul dari Rasulullah SAW, dan orang-orang beriman, kecuali setelah mereka mengalami cobaan yang sangat panjang serta tempaan yang sangat sulit. Pada saat hampir putus asa itulah baru mereka berkata seperti itu. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba akan selalu berada dalam kebaikan selama ia tidak diburu-buru” Dia ditanya,”Apakah yang engkau maksud dengan terburu-buru wahai Raulullah?”. Dia menjawab , “Yaitu seorang yang berkata, “Aku telah berdoa kepada Tuhanku, namun sampai kini belum terjawab juga”.

Oleh karena itu, berhati-hatilah. Janganlah Anda risau dengan panjangnya cobaan dan banyaknya doa. Saat dicoba dengan bala, sebenarnya Anda telah beribadah dengan doa dan kesabaran. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah meskipun cobaan yang ditimpakan kepada Anda sangat panjang.


Imam Ibnu Al-Jauziah dalam Saidul Khatir

Benarnya Iman Memudahkan Terkabulnya Doa

Pahamilah bahwa doa itu mudah terkabul jika keimanan seseorang itu benar. Jika iman pada Allah itu keliru, itulah yang menyebabkan doanya sulit terkabul. Jadi perbaikilah iman agar mudah diijabi doa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ada ulama yang mengatakan bahwa terkabulnya doa dilihat dari benarnya akidah atau keimanan seseorang sebagaimana yang namanya ketaatan pun demikian. Allah pun menyebut iman dalam membawakan konteks doa,

فَلْيَسْتَجِيبيُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي

“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku.”

Ketaatan dan ibadah adalah maslahat untuk hamba yang dapat mengantarkan mereka pada kebahagiaan dan keselamatan. Namun isi doa yang diminta kadang bermanfaat dan kadang berbahaya. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al Isra': 11).


وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. ” (QS. Yunus: 11) (Majmu’atul Fatawa, 14: 33-34).

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa -pertama- taat pada Allah dalam ibadah dan meminta pada-Nya, juga -kedua- beriman pada rububiyah dan uluhiyah-Nya, yaitu Allah diyakini sebagai Rabb dan ilah (sesembahan), itulah yang disyaratkan dalam terkabulnya doa. 


Sumber: http://rumaysho.com

DOA Minta Husnul-Khatimah

Sebaik-baik umur adalah yang dipanjangkan umur tetapi penuh dengan taat kepada Allah dan amal saleh. Sebaik-baik umur adalah yang terbaik pada akhirnya. Seburuk-buruk umur adalah yang panjang umurnya tetapi penuh dengan dosa dan maksiyat kepada Allah. Sejelek-jelek umur adalah yang terburuk di akhirnya.

Maka mari meminta kepada Allah untuk akhir hidup kita yang khusnul khotimah dengan beberapa macam doa di bawah ini :

1. Doa Khusnul khotimah pertama:



2. Doa Khusnul khotimah kedua:


"Allahummakhtimlanaa bil islaam, Wakhtimlanaa bil iimaan, wakhtimlanaa bihusnilkhootimah”

Ya Alloh, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah.


3. Doa Khusnul khotimah ketiga



“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu.” (HR. Ath-Thabarani).

4. Doa Khusnul khotimah keempat







Tata Cara BerDoa Kafaratul Majelis

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan sala atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Dari Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat hendak berdiri (meninggalkan) majelis berdoa:

"Mahasuci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu." Lalu ada seseorang yang berkata: Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan satu perkataan yang tidak engkau ucapkan sebelumnya? Beliau menjawab, "Sebagai kafarah (penghapus) terhadap apa yang terjadi di majelis"." (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya)

Hadits di atas memberikan pengajaran agar menutup majelis dengan membaca doa di atas. Faidahnya, sebagai penghapus dosa dan kesalahan yang terjadi dalam majelis dari guyonan, kegaduhan, tidak perhatian terhadap penyampaian, kurang memuliakan orang lain, dan tidak terjaganya adab-adab majelis lainnya. Hal ini dikuatkan dalam hadits lain, 
"Siapa yang duduk di satu majelis dan ia banyak melakukan kekeliruan di dalamnya lalu ia berdoa sebelum berdiri dari majelisnya itu,

"Mahasuci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu." Kecuali akan diampuni kekeliruannya di dalam majelisnya tersebut." (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya. Imam al-Tirmidzi berkata: ini hadits hasan shahih. Al-Albani menshahihkannya)
Waktu membacanya adalah sebelum berdiri dari majelis ketika selesai acara di majelis tersebut. Baik majelis tersebut adalah majelis ilmu, rapat, pertemuan untuk ngobrol, dan selainnya. Maka disunnahkan bagi orang yang akan berdiri meninggalkan mejelis tersebut untuk membaca doa ini. Ini merupakan kebiasaan yang sangat baik karena akan bisa menghapuskan perkataan dan perbuatan laghwun (tak berguna) dan kekeliruan selama dalam majelis tersebut.

Membacanya Bersama-sama, Beginikah Sunnahnya
Sering kami temui di suatu acara, rais jalsah (pembawa acara) mengajak menutup acara dengan membaca kafaratul majelis bersama-sama dengan suara keras. Apakah membaca dengan cara seperti ini yang paling tepat?

Dilihat dari keterangan hadits pertama bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca doa kafaratus majelis dengan suara yang didengar oleh orang lain. Sehingga para sahabat yang ada disekitarnya mendengar bacaan beliau tersebut yang belum pernah di dengar sebelumnya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga tidak mengajak bersama-sama membacanya. Tapi beliau membaca sendiri dengan memperdengarkannya. Sehingga para sahabat mengetahui bacaan beliau tersebut. Kemudian mereka bertanya tentangnya, dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bacaannya tersebut dan faidahnya.
Ringkasnya, tidak ada tuntunan untuk serentak dan bersama-sama membaca doa kafartul majelis sebagai penutup suatu acara. Doa ini dibaca sendiri-sendiri, bisa dikerjakan dengan sirr (pelan) atau diperdengarkan kepada yang lain. Namun jika ada seseorang menyampaikan penutup majelis dengan membaca doa ini secara keras dengan niat untuk mengingatkan orang-orang yang lupa dan mengajari orang jahil sehingga ia bisa mengikutinya, maka tak mengapa. Bahkan iaa akan mendapatkan pahala orang yang memulai suatu aktifitas yang baik. Artinya ia mendapatkan tambahan pahala dari orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Jika khawatir akan timbul riya' (pamer dan ingin dipuji karenanya) dalam hatinya karena mengeraskan ajakan dan bacaan kafaratus majelis maka lebih baik ia membaca dengan sirr (pelan). Karena tidak diragukan lagi, menutupi amal shalih sangat disuka oleh syariat selama tidak ada mashlahat yang lebih untuk menampakkannya. Sebab, menyembunyikan amal shalih lebih bisa menjaga keikhlasan dan jauh dari ujub dan riya'.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan,
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan sembunyi." (QS. Al-A'raf: 55)

Menampakkan amal menjadi terpuji jika benar-benar bisa merealisasikan mashlahat yang lebih banyak seperti seseorang yang mengerjakan kebaikan akan diikuti kebaikannya tersebut oleh orang lain jika ia menampakkan amalnya tersebut atau karena untuk menghidupkan sunnah.  

Ibnu Hajar menjelaskan tentang hadits "Siapa yang berbuat riya' maka Allah akan membalasnya dengan riya'juga,": di dalam hadits ini terdapat anjuran menyembunyikan amal shalih. Tapi terkadang dianjurkan menampakkannya oleh orang yang jadi teladan dengan niatan agar diikuti dan dikerjakan sesuai dengan kebutuhan. Ibnu Abdis Salam berkata: Dikecualikan dari anjuran menyembunyikan amal shalih orang yang menampakkannya agar diikuti atau diambil manfaatnya seperti menuliskan ilmu. ." (Fathul Baari, Bab: Riya' wa al-Sum'ah: 18/338 –dari Maktabah Syamilah-)

Penutup
Ringkasnya, doa kafaratus Majelis adalah salah satu anugerah Allah atas umat ini untuk menghapuskan kesalahan dan dosa kecil yang diperbuat di majelisnya. Sementara dosa besar haruslah dengan taubat yang benar. Dibacanya secara sendiri-sendiri, boleh dengan suara sir (lirih) atau keras saat akan bangkit untuk meninggalkan majelis. Membaca dengan suarat keras harus diikuti niatan untuk menghidupkan sunnah dan supaya diikuti oleh orang lain; untuk mengingatkan orang yang lupa atau mengajari yang belum  tahu. Wallahu Ta'ala A'lam.

Oleh: Badrul Tamam

Doa Kecukupan Rezeki Yang Halal


Jumlah dan banyaknya rezeki yang akan di terima oleh seorang hamba telah ditetapkan sejak ia masih dalam kandungan. Jika ia ditakdirkan untuk mendapatkan rezeki sebesar gunung uhud selama hidupnya, ia akan mendapatkannya. Ia akan menerima rezekinya yang telah ditetapkan, baik halal maupun haram. dan ia belum akan meninggalkan dunia ini sebelum rezekinya terpenuhi.

Kadang manusia memiliki harta yang banyak, namun masih saja terasa sedikit dan kurang. Begitu juga sebaliknya, kadang seseorang memiliki harta yang sedikit, namun mereka merasa berkecukupan.

Bagi orang yang merasa kurang, kadang ia mencoba mencukupi dirinya dengan cara yang tidak benar. Maka jadilah ia mendapatkan rezekinya tidak halal. Alangkah meruginya.
Untuk itu doa meminta rezeki yang halal dan meminta kecukupan akan nikmat Allah adalah sangat penting untuk selalu dilantunkan. Seperti yang baginda Rasul SAW menyarankan kepada umatnya  untuk membaca doa berikut:

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
.

“Allahummakfinii bihalaalika ‘anharoomika, Wa aghninii bifadhlika ‘amman siwaaka”

Artinya :
“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal,  sehingga aku tidak memerlukan yang haram,  dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” ((HR. At-Tirmidzi  dan. Ahmad)


Doa Nabi Zakaria as Untuk Memohon Keturunan


Nabi Zakaria as adalah salah satu nabi. Beliau menyerukan tauhid, penyembahan Allah swt, kesucian dan kebenaran sepanjang umur dan memberikan hidayat kepada umat ke jalan yang lurus. Ketika sampai pada usia lanjut, beliau berpikir akan segera dijemput oleh kematian maka beliau tenggelam dalam kesedihan.

Alasan kedukaan dan kesedihan nabi Zakaria as adalah karena beliau tidak memiliki putera dan di antara orang-orang terdekat beliau tidak terdapat seseorang yang akan melanjutkan jalannya. Oleh karena itulah beliau as sangat bersedih karena obor hidayat yang sejak dahulu menyala di dalam keluarganya dan turun menurun dari ayah-ayahnya akan padam.

Usia lanjut dan kemandulan sang isteri tidak menghalanginya berputus asa dari rahmat dan kasih Ilahi. Beliau as menyatakan permohonan dan harapannya ini kepada Allah swt dalam berbagai kesempatan yang disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak tiga kali:

a) Hannah, isteri Imran ketika hamil bernadzar bila melahirkan anak akan dikhidmatkan untuk Baitul Maqdis. Ketika lahir seorang anak perempuan ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan –meskipun aku berharap ia adalah laki-laki-. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk”.

Allah swt pun menerima nadzarnya. Nabi Zakaria as yang adalah suami bibi Maryam dan pembesar Baitul Maqdis memegang hak pengasuhan Maryam dan membesarkannya. Beliau as membangunkan sebuah mihrab untuknya di dalam masjid sehingga Maryam dapat beribadah di dalamnya. Nabi Zakaria as setiap kali masuk mihrab untuk mengunjungi Maryam menyaksikan di sisi Maryam terdapat makanan segar dan buah-buahan yang bukan musimnya, beliau as bertanya kepada Maryam: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?

Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.

Ketika itulah, ibadah, spiritual dan kesempurnaan-kesempurnaan Maryam menggoncang nabi Zakaria as dan beliau berkata dalam diri: “Alangkah indahnya bila aku memiliki keturunan seperti ini”. Dan tanpa menunggu lebih lama beliau as mengangkat tangan berdoa dan berkata:
رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.[1]

Kemudian ketika beliau as sedang shalat di Mihrab, malaikat Ilahi memberikan berita gembira kepadanya bahwa Allah swt akan menganugerahkan kepadamu seorang putera bernama Yahya yang akan menjadi besar, suci dan nabi.

Dengan tidak percaya Nabi Zakaria as berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?!”
Dijawab: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

b) Disebutkan di dalam permulaan surat Maryam: Ingatlah rahmat Allah swt kepada nabi Zakaria as, tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara perlahan dan mengatakan:
رَبِّ إِنِّي وَهَنَ العَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباً وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيّاً * وَإِنِّي خِفْتُ المَوالِيَ مِنْ وَرائِي وَكانَتِ امْرَأَتِي عاقِراً فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيّاً * يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيّاً
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai”.[2]

Terdengar seruan dari sisi Tuhan: “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan namanya”.

Nabi Zakaria as menjawab: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul?”

Dijawab: “Demikianlah, hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.

Allah swt menganugerahkan nabi Yahya kepada nabi Zakaria dengan membawa kitab dan hikmah.

c) Pada surat al-Anbiya’ [21], dalam rangka menyebutkan kisah para nabi as dan menyinggung kehidupan dan penghambaan mereka, ketika sampai pada nabi Zakaria as Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya:
رَبِّ لا تَذَرْنى فَرْداً وَأَنْتَ خيْرُ الوارِثينَ
“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik”.[3]

Maka Allah swt berfirman: “Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami”.

Beberapa Riwayat
1- Disebutkan di dalam sejarah bahwa setiapkali Nabi saw mengutus Imam Ali as ke medan perang, beliau saw berdoa dan mengatakan:
رَبِّ لا تَذَرْنى فَرْداً وَأَنْتَ خيْرُ الوارِثينَ
“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri –artinya janganlah Engkau ambil Ali dariku- dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik”.

2- Almarhum Kulaini mengisahkan dari Harits Nashri bahwa ia berkata: Aku mengatakan kepada Imam Shadiq as: Keluargaku seluruhnya telah tiada dan aku pun tidak memiliki putera. (Maksudnya ajarkanlah kepadaku suatu doa sehingga dengan berkahnya aku memperoleh keturunan).
Imam Shadiq as berkata: Ucapkanlah dalam sujudmu:
رَبِّ هَبْ لي‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء “
رَبِّ لا تَذَرْني‏ فَرْداً وَ أَنْتَ خَيْرُ الْوارِثين

 “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

 “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri –artinya janganlah Engkau ambil Ali dariku- dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik”

Haris berkata: Aku mengamalkan instruksi Imam Shadiq as dan membaca dua ayat ini dalam sujudku. Allah swt menganugerahi dua putera bernama Ali dan Husain”. 

[1] QS. Ali ‘Imran [3]: 38.
[2] QS. Maryam [19]: 4 – 6.
[3] QS. Al-Anbiya’ [21]: 89.


Sumber: www.quran.al-shia.org

Doa Ahli-ahli Sihir Yang Beriman

Dengan perintah Allah swt Nabi Musa dan nabi Harun as menuju ke istana Fir’aun dan mereka berdua berkata dengan lemah lembut atas instruksi Ilahi. Mereka berdua mengatakan tentang pembebasan Bani Israel, azab hari kiamat, makrifatullah, nikmat-nikmat Ilahi, kematian, kebangkitan dan ayat-ayat lain dan menunjukkan mukjizat-mukjizat Ilahi kepadanya.

Fir’aun menganggap mukjizat-mukjizat Ilahi sebagai sihir nabi Musa as dan menentukan hari raya sebagai hari perlawanan dengannya.

Fir’aun mengumpulkan para tukang sihir yang paling pandai dan memberikan janji kepada mereka bila dapat mengalahkan Musa maka mereka akan menjadi orang-orang terdekatnya.
Tibalah hari raya yang dinantikan. Semua orang datang ke tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan perlawanan para tukang sihir ternama dengan Nabi Musa as dan nabi Harun. Pada mulanya para penyihir memulai dan menunjukkan kebolehan sihir mereka untuk menakuti Nabi Musa as. Tiba-tiba terdengar seruan: “Wahai Musa! Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang), lemparkanlah tongkatmu! Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan”.

Nabi Musa as segera melakukan perintah Allah swt. Ia melemparkan tongkatnya. Seketika itu juga dengan mukjizat Ilahi tongkat tersebut berubah menjadi ular dan menelan sihir para penyihir dan Nabi Musa as bertindak sedemikian rupa sehingga para tukang sihir Fir’aun tersungkur dengan bersujud dan menyaksikan kebenaran Allah swt, kejujuran Nabi Musa dan Harun as dan kehampaan klaim ketuhanan Fir’aun.

Fir’aun menghadap kepada mereka dan berkata: “Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian?, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kalian rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian ini), sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kalian semuanya”.

Ahli-ahli sihir yang baru beriman itu mengatakan: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. Dan pada kesempatan itulah mereka menengadahkan tangan berdoa:
رَبَّنا أَفْرِغْ عَلَيْنا صَبْراً وَ تَوَفَّنا مُسْلِمينَ

“Ya Tuhan kami! Limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.[1]

[1] QS. Al-A’raf [7]: 126.
sumber: http://quran.al-shia.org

Doa 12 Pintu Kebaikan


"Allahumaftah Lii Abwaabal Khairi, wa abwaabas salamah, wa abwaabas sohati, wa abwaaban ni'mati, wa abwaabal barakti, wa abwaabal quwwati, wa abwaabal mawaddati, wa abwaabar rahmati, wa abwaabar rizqi, wa abwaabal 'ilmi, wa abwaabal maghfiroti, wa abwaabal jannati, Ya Arhamar Rohimiin."

"Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu kebaikan, pintu-pintu keselamatan, pintu-pintu kesihatan, pintu-pintu nikmat, pintu-pintu keberkatan, pintu-pintu kekuatan, pintu-pintu cinta sejati, pintu-pintu kasih sayang, pintu-pintu rezeki, pintu-pintu ilmu, pintu-pintu keampunan dan pintu-pintu Syurga, Ya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."

sumber : https://www.youtube.com/watch?v=byjv8p66P4Q

Pengaruh Zikir Terhadap Otak

OTAK hanyalah aktivitas-aktivitas bio-elektrik yang melibatkan sekumpulan saraf yang dipertanggungjawabkan untuk melakukan tugas-tugas tertentu untuk memungkinkan ia bekerja dengan sempurna.

Setiap hari 14 juta saraf yang membentuk otak ini berinteraksi dengan 16 juta saraf tubuh yang lain.

Semua aktivitas yang kita lakukan dan pemahaman atau ilmu yang kita peroleh adalah natijah dari aliran interaksi bio-listrik yang tidak terbatas.

Oleh itu, apabila seorang itu berzikir dengan mengulangi kalimat-kalimat Allah, seperti Subhanallah, beberapa kawasan otak yang terlibat menjadi aktif.

Ini menyebabkan satu aliran bio-listrik di wilayah saraf otak tersebut.

Bila zikir disebut berulang-ulang kali, aktivitas saraf ini menjadi bertambah aktif dan turut menambah tenaga bio-listrik.

Lama-kelamaan kelompok saraf yang sangat aktif ini mempengaruhi kelompok saraf yang lain untuk turut sama aktif.

Dengan itu, otak menjadi aktif secara keseluruhan.

Otak mulai memahami hal baru, melihat dari sudut perspektif berbeda dan semakin kreatif dan kritis, sedang sebelum berzikir otak tidak begini.

Otak yang segar dan fit secara tidak langsung mempengaruhi hati untuk melakukan kebaikan dan menerima kebenaran.

Hasil penelitian laboratorium yang dilakukan terhadap subjek ini dimuat dalam majalah Scientific American, edisi Desember 1993.

Satu penelitian yang dilakukan di Universitas Washington dan tes ini dilakukan melalui tes pemindaian PET yang mengukur kadar aktivitas otak manusia secara tidak sadar.
Dalam penelitian ini, sukarelawan diberikan satu daftar kata benda.

Mereka diharuskan membaca setiap kata tersebut satu persatu dan menghubungkan kata-kata dengan kata kerja yang terkait.

Ketika sukarelawan melakukan tugas mereka, beberapa bagian berbeda otak menunjukkan peningkatan aktivitas saraf, termasuk di bagian depan otak dan korteks.

Menariknya, apabila sukarelawan ini mengulangi daftar kata yang sama berulang-ulang kali, aktivitas saraf otak merebak pada kawasan lain dan mengaktifkan kawasan saraf lain.

Ketika daftar kata baru diberikan kepada mereka, aktivitas saraf kembali meningkat di daerah pertama.

Ini sekaligus membuktikan secara ilmiah bahwa kata yang diulang-ulang seperti perbuatan berzikir, terbukti meningkatkan kebugaran otak dan menambah kemampuannya.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan zikrullah, ketahuilah hanya dengan mengingat Allah itu, hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d, ayat 28)


Sumber : islampos.com dan kabarislam.net

Makbulnya Doa Ketika Mendoakan Orang Lain Tanpa Sepengetahuannya


Allah berfirman dalam Al-Quran :

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات

 “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Dari Abu Ad-Darda’ t dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dari Ummud Darda’ mengisahkan bahwa ada seorang laki-laki datang ke negeri Syam, kemudian ia ingin bertemu dengan Abud Darda` Radhiallahu ‘anhu di rumahnya namun beliau tidak ada dan hanya mendapati Ummud Darda`. Ummud Darda` berkata, “Apakah kamu ingin pergi haji tahun ini?” Orang tersebut menjawab, “Ya.” Ummud Darda` mengatakan, “Doakanlah kami dengan kebaikan. Karena sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi, menjelaskan hadits diatas dalam kitabnya, Al-Minhaj, dengan mengatakan, “Makna بظهر الغيب adalah tanpa kehadiran orang yang didoakan di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang seperti ini benar-benar menunjukkan di dalam keikhlasannya.

Dan dahulu sebagian para salaf jika menginginkan suatu doa bagi dirinya sendiri, maka iapun akan berdoa dengan doa tersebut bagi saudaranya sesama muslim dikarenakan amalan tersebut sangat dikabulkan dan ia akan mendapatkan balasan yang semisalnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan, “Bahwasanya jika seseorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) dengan tanpa sepengetahuan dan kehadiran saudaranya di hadapannya. Seorang malaikat berkata, ‘Amin (Ya Allah, kabulkanlah), dan bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.’ Maka malaikat akan mengaminkan atas doamu jika engkau mendoakan bagi saudaramu tanpa sepengetahuan dan kehadirannya.”

Wallahu a’lam.
Referensi :